Abu Bakar Ash Shiddiq dan Dua Tahun Penuh Prestasi

Abu Bakar Ash Shiddiq – Siapa yang tidak mengenal Abu Bakar Asshidiq. Beliau lah sahabat Rasul yang paling setia, paling lembut hatinya, dan termasuk assabiqunal awwalun atau orang yang pertama-tama masuk Islam. Beliau juga termasuk salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga.

Melalui pernikahan Rasulullah dengan  Aisyah, Abu Bakar juga merupakan mertua Nabi.

Saat Rasulullah mengalami tahun berduka akibat wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, dan berlanjut pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Abu Bakar adalah sahabat yang selalu ada di samping beliau. Abu Bakar pula yang pertama kali membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj dan mempercayai Rasulullah, di saat orang Qurasy menuduh beliau gila.

Dari sanalah Rasulullah memberi gelar Asshidiq pada sahabat setianya ini. Abu Bakar juga bertangan dingin dalam berdakwah. Melalui perantaraan beliau, banyak masyarakat Qurasy yang masuk Islam, dan akhirnya menjadi sahabat setia Rasulullah. Misalnya Bilal bin Rabah dan Utsman bin Affan, khalifah ketiga.

Lahir di Mekah pada tahun 572 Masehi atau 41 tahun sebelum kenabian, Abu Bakar adalah putera dari Utsman Abu Quhafah dan merupakan keturunan terpandang di Kamilah Qurasy. Bernama asli Abdullah bin Abu Quhafah, beliau adalah laki-laki dewasa pertama yang menerima hidayah Islam. Di masyarakat ia dikenal sebagai saudagar kaya yang jujur, lembut hati, dan penyabar.

Kecerdasannya dan ketakwaannya tidak terbantahkan, menjadikan beliau khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah, dan terpilih secara aklamasi. Pemerintahan Abu Bakar sendiri hanya berlangsung selama dua tahun tiga bulan. Merupakan periode kekhalifahan yang paling singkat di antara khulafaurrasyidin lainnya.

Abu Bakar memimpin sejak tahun 11-13 Hijriyah, dan selama kurun waktu yang singkat itu beliau menorehkan prestasi luar biasa.

Pengiriman Pasukan Ke Syria dan Iraq

Pengiriman pasukan muslim di bawah pimpinan Panglima Usamah Bin Zaid sebenarnya telah dilakukan pada masa Rasulullah, namun dibatalkan karena Rasulullah wafat. Abu Bakar memutuskan untuk melanjutkan ekspedisi ini, karena merupakan salah satu wasiat Rasulullah SAW.

Hal ini sempat menjadi perdebatan di kalangan sahabat, karena kondisi di dalam negeri juga sedang chaos. Banyak pemberontakan dari kaum murtad Arab termasuk di Madinah, juga munculnya nabi-nabi palsu dan orang-orang yang menolak membayar zakat. Umar bin Khatab adalah salah satu sahabat yang menentang pengiriman pasukan ke luar wilayah Madinah.

Namun sang khalifah tetap pada pendiriannya, dan hal itu terbukti merupakan keputusan yang benar. Dengan kemenangan gemilang pasukan muslim atas pasukan Romawi di Syria di bawah pimpinan Usamah.

Beliau juga mengirimkan pasukan di bawah Khalid bin Walid ke Iraq untuk membebaskan kaum Muslimin dari penindasan pemerintahan Persia. Pasukan ini pun berhasil dengan gemilang pada tahun 12 H.

Prestasi Abu Bakar Ash Shiddiq

Penumpasan Nabi Palsu, Orang-orang Murtad, Dan Pengingkar Zakat

Begitu kabar wafatnya Rasulullah tersebar ke seluruh negeri, timbul bermacam-macam reaksi di masyarakat. Mereka yang masih lemah imannya, mendadak goyah begitu tahu rasul sudah tidak berada di tengah-tengah mereka lagi. Dari sana lah, timbul masalah. Beberapa kelompok masyarakat dan suku Arab di Madinah dan beberapa daerah lain seperti Yaman, Yamamah, dan Damaskus murtad dan memberontak.

Mereka beranggapan, perjanjian damai yang telah disepakati di zaman Rasulullah tidak berlaku lagi karena Rasulullah telah wafat. Selain keluar dari iman Islam, mereka juga menolak membayar zakat untuk baitul maal. Masalah lain yang timbul juga tak kurang peliknya; munculnya orang-orang yang mengaku nabi.

Abu Bakar bertindak cepat dan tegas untuk mengatasi masalah ini. Beliau membentuk sebelas kelompok pasukan untuk menumpas nabi palsu yang dipimpin oleh sahabat-sahabat pilihan yaitu Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abi Jahl, Muhajir bin Abi Umayyah, Amr bin Ash, dan Said bin Ash.

Seluruh nabi palsu berhasil ditumpas. Sebagian dibunuh, dan sebagian bisa diinsafkan. Begitu pula dengan para pengingkar zakat dan masyarakat yang murtad.

Di wilayah Yamamah, kaum Muqtada melakukan perlawanan sengit hingga jatuh korban ribuan orang di pihak Muslimin. Sebagian  besar dari mereka adalah para penghapal Quran. Setelah penumpasan berakhir, keadaan dalam negeri kembali pulih dan khalifah kembali fokus pada pengembangan dakwah Islam ke luar negeri.

Islam dan Kejayaan Yang Meluas

Setelah membereskan urusan dalam negeri, Abu Bakar berkonsentrasi pada perluasan dakwah dan kekuasaan Islam. Hal ini ditandai dengan pengiriman pasukan di bawah Usamah bin Zaid bin Haritsah ke Syria, Khalid bin Walid ke Byzantium dan beberapa pasukan kecil ke wilayah Syam.

Dalam peperangan melawan kerajaan Romawi, pasukan muslim hanya berjumlah 24.00 orang (riwayat lain menyebutkan 18.000 orang) melawan pasukan Romawi yang berjumlah 240.000 orang. Peperangan berlangsung sengit dan dimenangkan oleh pasukan muslim.

Pada perang di wilayah Syam, pasukan Byzantium Roma menjadikan kota Damaskus sebagai base camp. Pasukan Khalid bin Walid yang dikirim untuk membantu pasukan muslim di sana, berhasil memecah kesolidan tentara Romawi.

Perang ini disebut Perang Yarmuk karena berlangsung di pinggiran Sungai Yarmuk. Dalam perang ini pun banyak sekali sahabat yang juga penghafal Al Quran tewas, namun pasukan muslim menang dengan gemilang.

Pengumpulan dan Penyusunan Ayat Al Quran

Banyaknya sahabat yang hafal Al Quran syahid pada perang Yamamah dan perang Yarmuk, membuat Umar bin Khatab khawatir. Pasalnya, saat itu eksistensi ayat Al Quran sangat bergantung pada hafalan para sahabat. Al Quran pun diajarkan berdasarkan hafalan tersebut. Maka jika para penghafal Al Quran makin sedikit, dikhawatirkan kelak Al Quran akan sulit dipelajari.

Karenanya Umar mengusulkan pada Abu Bakar agar mengumpulkan dan menuliskan ayat-ayat Al Quran agar kaum muslimin bisa belajar Al Quran tanpa harus bergantung pada hafalan para sahabat saja.

Awalnya Abu Bakar menolak, menganggap hal ini adalah bid’ah karena tidak pernah diajarkan atau diusulkan oleh Rasulullah. Namun setelah berdiskusi dan berdialog dengan Umar bin Khatab secara mendalam, akhirnya khalifah setuju dengan usulan ini.

Maka dibentuklah sebuah tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit, sahabat Rasul yang terkenal akan kecerdasannya dan menguasai belasan bahasa. Tim ini mengumpulkan tulisan-tulisan ayat Al Quran yang tersebar.

Pada zaman Rasul, begitu wahyu turun maka Rasul akan membacakannya langsung di depan para sahabat. Mereka menghapalnya dan menuliskannya pada benda-benda terdekat dengan mereka seperti pelepah kurma, kulit binatang, kayu, dll.

Tulisan-tulisan inilah yang dikumpulkan, lalu diurutkan sesuai urutan murojaah (pengulangan hapalan) yang dilakukan Jibril pada Rasulullah sebelum beliau wafat. Kemudian baru dituliskan kembali dalam bentuk mushaf (lembaran-lembaran).

Mushaf ini disimpan di rumah sang khalifah, dan sesudah beliau meninggal dunia maka disimpan oleh Hafshah binti Umar bin Khatab, salah satu istri Rasulullah yang juga anak perempuan dari Umar. Beliau menyimpan mushaf itu hingga akhir hayatnya.

Masa kepemimpinan Abu Bakar Asshidiq hanya berlangsung selama dua tahun tiga bulan, namun pencapaian dan sejarah gemilang  yang ditorehkannya sangat besar pengaruhnya pada kejayaan dan peradaban Islam. Semoga Allah merahmati beliau.

Wallahu a’lam

  • Add Your Comment