Al-Faruq Gelar Umar Bin Khattab dan Masa Kekhalifannya

Umar bin Khattab merupakan salah satu sahabat Nabi yang paling disayang, selain sebagai sahabat, beliau juga merupakan ayah dari istri Nabi yakni Hafshah. Beliau juga khalifah kedua yang berkuasa pada tahun 634 sampai dengan tahun 644, Umar bin Khattab juga digolongkan sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin dan diberikan julukan oleh Nabi, yakni Al-Faruq yang artinya orang yang mampu memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Dalam perspektif Syiah, gelar Umar bin Khattab tersebut dipandang negatif.

Dalam kepemimpinannya, gelar Umar bin Khattab sebagai Al-Faruq yang membuatnya mampu menaklukan Kekaisaran Sasaniyah hanya dalam kurun waktu dua tahun (642 – 644). Beliau berhasil mengambil alih kepemimpinan dua pertiga wilayah yang diduduki oleh Kekaisaran Romawi Timur. Dengan takluknya wilayah Timur Tengah ditangan Umar, perluasan wilayahnya pun turut diikuti oleh pembaharuan dalam bidang pemerintahan dan politik, serta Baitul Mal di bidang ekonomi. Pencapaian yang diraih Umar, menjadikannya sebagai khalifah yang paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Biografi Umar bin Khattab

Sebelum Umar memeluk Islam, beliau merupakan orang yang sangat disegani bahkan dihormati oleh penduduk Mekkah. Ia sangat dikenal sebagai peminum berat alkohol, dalam beberapa catatan mengatakan bahwa pada saat sebelum memeluk Islam atau jaman Jahilliyah, Umar menggemari minuman anggur. Kemudian setelah bertemu Nabi dan menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun saat itu belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas di dalam Al-Qur’an.

Umar bin Khattab Memeluk Islam

Pada saat kedatangan Nabi Muhammad Saw dan menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Rasul mendapatkan reaksi antipasti yang sangat besar oleh Umar. Umar yang memiliki kemampuan sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh dalam setiap peperangan, menjadikannya sebagai lawan yang sangat diperhitungkan. Dengan kekuatannya, Umar tercatat sebagai orang yang paling banyak bahkan sering menyiksa pengikut Nabi dengan kekuatan yang dimilikinya.

Karena kebenciannya kepada Rasul yang begitu besar, Umar pernah memutuskan untuk melakukan pembunuhan terhadap Nabi. Namun dapat dihalangi oleh pengikut Nabi yakni Nu’aim bin Abdullah yang memberikan kabar bahwa salah seorang saudarinya sudah memeluk Islam. Mendengar berita tersbut Umar pun terkejut dan memutuskan kembali ke rumah untuk menghukum sang adik.

Menurut riwayat, saat Umar sampai di rumah ia mendapati sang adik sedang melafalkan surat Thoha ayat 1-8. Melihat hal tersebut membuat emosi Umar semakin meletup dan memukul sang adik sampai berdarah. Melihat luka yang di terima sang adik, Umar akhirnya iba dan meminta sang adik untuk memperlihatkan surat yang dibacanya tadi.

Menurut riwayat, Umar terguncang seketika setelah membaca surat Thoha ayat 1-8. Dengan guncangan yang diterima Umar, tak lama ia memutuskan untuk memeluk Islam. Tentunya keputusan beliau menjadi berita yang menggemparkan untuk seisi Mekkah, karena orang yang begitu membenci dan menentang Nabi, namun pada akhirnya gelar Umar bin Khattab sebagai Al-Faruq disematkan padanya.

Masa Kekhalifan

Sebelum menjadi khalifah utama, Umar bin Khattab merupakan seorang kepala penasehat untuk Abu Bakar. Dan setelah sepeninggalnya Abu Bakar, gelar Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua untuk menggantikan posisi Abu Bakar dalam sejarah Islam.

Menjadi Khalifah Setelah Abu Bakar

Dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Mesopptamia berhasil diambil oleh Islam. Bahkan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia yang kemudian mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Persia dan Romawi merupakan dua kekaisaran yang menjadi adi daya yang berhasil ditaklukan oleh kekhalifan Islam yang dipimpin oleh Umar.

Penaklukan besar yang terjadi mampu menjadi sejarah besar atas pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan Romawi dan Persia. Pertempuran di Yarmuk, yang terjadi di sekitar wilayah Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan.

Pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), yang terjadi di dekat sungai Eufrat. Jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas berhasil mengalahkan pasukan Sassanid bahkan berhasil membunuh Rustam Farrukhzad, jenderal Persia yang terkenal.

Pada tahun 637 yakni masa setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam kembali berhasil mengambil alih kota tersebut. Umar bin Khattab diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius  yang kemudian diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Namun Umar memilih untuk salat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. Dan Masjid Umar akhirnya didirikan tepat di tempat ia salat 55 tahun kemudian.

Kebijakan Umar bin Khattab

Reformasi yang dilakukan oleh Umar sudah banyak sekali baik itu secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, tidak lupa juga membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan.

Sensus pun dilaksanakan di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Kemudian pada tahun 638, Umar memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah.

Meski saat itu gaya hidup dan penampilan para penguasa sangat bagus, tidak untuk Umar. Ia tetap memilih untuk hidup sederhana. Karena gelar Umar bin Khattab yang menjadikannya sebagai orang yang mampu membedakan mana yang benar dan bathil.

Penanggalan Islam juga mulai diperhitungkan, yakni dihitung saat peristiwa hijrah sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya.

Wafatnya Umar bin Khattab

Saat menjadi imam solat subuh, Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk atau Fairuz, seorang budak yang fanatik. Fairuz sendiri merupakan orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan oleh Umar. Pembunuhan yang terjadi menurut riwayat dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk terhadap Umar. Ia sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafatnya Umar bin Khattab, jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.

Adapun semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan beberapa wasiat, di antaranya:

  1. Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Demikianlah kisah Umar bin Khattab beserta gelar Umar bin Khattab yang dijuluki Al-Faruq atas pemberian Nabi. Semoga bermanfaat dan memberikan referensi yang tepat untuk Anda.

  • Add Your Comment