Beberapa Sunnah Rasulullah SAW yang Mudah Diamalkan Sehari-hari

Ibadah memang sudah suatu keharusan. Seperti apa yang telah Allah SWT firmankan dalam Al-Qur’an. Namun adakalanya, sebagai umat Islam juga mencari tambahan pahala lainnya. Untuk itulah, sunnah Rasulullah SAW hadir di antaranya guna memberi cahaya kebaikan bagi siapapun kelak di akhirat.

Pengertian Sunnah Rasulullah SAW

Mungkin sudah banyak orang mengutarakan tentang bermacam sunnah Rasululllah SAW dengan dalil-dalil hadits di dalamnya. Namun, sebagian lainnya juga merasa masih bingung atas kebenaran dari kata-kata tersebut, karena setiap individu memiliki pendapat mereka sendiri-sendiri.

Secara harfiah, sunnah Rasulullah merupakan sebuah perilaku, kebiasaan atau ketentuan tertentu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. Setelahnya, para shahabat, murid mereka serta masyarakat sesudah itu mengadopsi cara tersebut hingga menjadi suatu kesepakatan sosial.

Hal tersebut juga diutarakan oleh Hasbi Ash-Shidieqie bahwa Sunnah Rasulullah merupakan cara seseorang mengadopsi perilaku yang berakar dari contoh-contoh kehidupan Nabi Muhammad SAW, dilakukan secara terus menerus menjadi sebuah tradisi dan merujuk pada hadits.

Dari ‘Amr bin ‘Auf bin Zaid al-Muzani Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda,

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

Kedudukan Sunnah Rasulullah SAW dalam Islam

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, sunnah merupakan pedoman hidup yang hadir sejak jaman Rasulullah SAW ada. Islam sendiri memandang hal ini dengan sesuatu yang dapat menafsirkan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an agar lebih realistis dan mudah diterima masyarakat.

Islam pun memandang Sunnah Rasulullah SAW sebagai sebuah dasar kedua setelah Al-Qur’an dari hukum-hukum dalam agama ini, seperti ketentuan beramal, beribadah, bertata krama pada orang tua, dan masih banyak lagi karena dipandang lebih sesuai dengan keadaan masyarakat muslim.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

Sunnah sendiri terus dijalankan, bahkan sepeninggal Rasulullah SAW. Para sahabat dan murid-muridnya, serta keluarga mereka tidak ada satupun yang mengingkari segala ketentuan tersebut. Bahkan banyak peristiwa dimana penyelesaiannya memakai as-sunnah sebagai sumber hukum.

Sunnah Berupa Perintah Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Ketika menjalankann kehidupan sehari-hari, perintah dari Al-Qur’an tentu saja akan dijalankan semaksimal mungkin bagi mereka yang beragama Islam. Selain itu, masih ada sunnah yang melengkapi setiap pedoman di kitab suci tersebut.

Sunnah sendiri umumnya dibagi menjadi dua, sama seperti segala pedoman dalam Al-Qur’an. Keduanya adalah perintah serta larangan. Tujuan kedua hal tersebut sebenarnya sama, hanya sebagai pelengkap. Namun pahalnya luar biasa bila dikerjakan.

Sebagai umat Islam, mengerjakan sunnah sebanyak mungkin berarti bisa menambah pundi-pundi pahala. Ada beragam tuntunan tersebut yang mengiringi setiap kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya saja, sebagai berikut:

⦁ Berdzikir Setiap Saat

Sehabis shalat, biasanya orang tidak akan beranjak begitu saja dari tempat duduknya. Mereka memilih memanjatkan do’a lebih dulu, bersholawat, serta berdzikir kepada Allah SWT. Hal tersebut semata-mata dilakukan bukan hanya sekedar mencari ridho, namun juga mengingat-Nya.

Sebenarnya, dzikir tidak harus dilakukan seusai shalat saja. Banyak orang berlomba-lomba melakukan hal tersebut agar bisa lebih dekat dengan Allah SWT setiap saat. Selain itu, tuntunannya termasuk dalam sunnah Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW sendiri menganjurkan pada umatnya agar sebisa mungkin selalu mengingat Allah SWT kapanpun dan dimanapun. Bahkan, beliau pernah berkata bahwa orang yang tidak berdzikir sudah seperti hidup, namun terasa mati karena kosong jiwanya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Salam bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang yg hidup dan orang yg mati.” (HR. Bukhari).

⦁ Belajar dan Memaknai Isi Al-Qur’an

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, membaca Al-Qur’an memang sudah dianjurkan sejak kitab suci tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, lalu ditulis ulang pada pelepah daun lontar. Rasululullah SAW, para Shahabat serta murid-murid mereka telah mencontohkan hal ini.

Mungkin terasa mudah kalau hanya membacanya saja, karena banyak orang tua juga mengajarkan hal itu pada anaknya. Namun, akan lebih baiki bila bisa mengamalkan sekalian isi dari kitab suci ini. Meskipun satu ayat saja yang sudah dimengerti, pahalanya begitu besar.

Kebanyakan orang mulai membaca Al-Qur’an serta mempelajarinya ketika Ashar tiba. Atau, sehabis melaksanakan shalat Maghrib agar bisa dilanjutkan sekalian ke Isya’. Namun, akan lebih baik kalau ada waktu senggang digunakan untuk mempelajarinya sekalian.

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).

⦁ Shalat Fardhu Berjamaah

Shaalat fardhu wajib hukumnya bagi setiap umat muslim. Dimanapun mereka saat itu, ketika panggilan sudah berkumandang, maka harus segera mencari tempat berhenti untuk melaksanakannya. Meskipun juga terdapat keringanan di dalamnya.

Ada beberapa pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi siapapun yang menjalankan shalat. Meskipun hal tersebut sudah tertera sebagai ibadah wajib di dalam Al-Qur’an. Bila mereka melaksanakan perintah ini dengan berjamaah, maka kebaikannya dilipat gandakan hingga 27 kali.

وقال صلى الله عليه وسلم: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Nabi saw. bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Malik, imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam At-Tirmidzi, imam Ibnu Majah, dan imam An-Nasai dati sahabat Ibnu Umar r.a.

Tidak hanya itu, adapun shalat fardhu yang dinilai memiliki keistimewaan meskipun Al-Qur’an tidak menggambarkannya segamblang itu, yakni ketika Subuh dan Isya’ tiba. Namun, sunnah Rasulullah SAW cukup menjelaskan maksudnya.

⦁ Shalat Dhuha

Selain shalat fardhu, masih ada ibadah sunnah lain yang juga dilaksanakan sama seperti perintah tersebut, yakni di waktu Dhuha. Allah SWT menganjurkan umat Islam untuk melakukannya ketika matahari belum sampai di atas kepala. Jadi, dikerjakan sekitar jam 8-10 pagi.

Shalat Dhuha paling sedikit dilaksanakan 2 rakaat, dan maksimalnya ada 12 dengan manfaat agar segala urusan dimudahkan. Allah SWT telah menjanjikan akan membangunkan istana di surga bagi mereka yang mau melaksanakan ibadah tersebut secara penuh. Subhanallah.

Meskipun tidak dijelaskan juga secara gamblang tentang fungsinya di Al-Qur’an, tetapi hal tersebut cukup memaparkan bahwa Shalat Dhuha bisa mendatangkan kemudahan ketika ada masalah, melancarkan rezeki, memperbaiki kemiskinan, seperti dalam sunnah dan hadits.

Abu Dzar Radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Di pagi hari ada kewajiban bagi seluruh persendian kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Demikian juga amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah sedekah. Semua ini bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua raka’at” (HR. Muslim no. 720)”

⦁ Shalat Tahajud

Hampir sama seperti sebelumnya, namun ibadah ini terkenal dilakukan saat sepertiga malam. Dimana banyak orang lebih memilih tidur, namun keutamaan dari Allah SWT datang pada mereka yang bergegas mengambil wudhu serta melaksanakan Tahajud.

Shalat Tahajud sendiri baiknya dikerjakan seteah Isya’. Namun, disunnahkan tidur dulu dan bangun pada sepertiga malam (sekitar pukul 2 atau 3 pagi). Tidak masalah juga kalau dilaksanakan sebelum atau sesudah itu, asal tidak sampai adzan Subuh berkumandang.

Keutamaan Shalat Tahajud sendiri ada banyak. Meskipun sunnah, rasanya rugi sekali bila ditinggalkan begitu saja. Karena jika mengerjakannya, maka orang tersebut bisa terjaga dari dan terhapus dosa besarnya, menolak penyakit, serta lebih dekat dengan Allah SWT.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku)”. (QS Al-Isra [17]: 79-80).

⦁ Shalat Istikharah

Manusia hidup pasti mempunyai pilihan ketika akan melakukan sesuatu. Hal tersebut terus datang, berulang-ulang. Mulai dari opsi sederhana hingga sangat sulit dan bahkan bisa membuat mereka kebingungan harus mengambil yang mana agar tepat.

Selain Dhuha dan Tahajud, masih ada shalat lain yang juga disunnahkan oleh Rasulullah agar dilakukan tiap kali umatnya mengalami dilema akan suatu pilihan. Orang-orang biasanya sering menggunakan ibadah sunnah ini untuk meminta pertolongan Allah SWT tentang jodoh.

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ , وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ , وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ

“Ya Allah aku beristikharah atau memohon petunjuk dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuasaan-Mu, dan aku memohon keutamaan-Mu.” (HR. Bukhari)

Shalat Istikaharah juga sama seperti ibadah sunnah lainnya, seringkali dilakukan dalam 2 rakaat. Untuk waktunya sendiri tidak diberi ketentuan. Anda bisa mengerjakannya sehabis Dhuha maupun selepas Isya’ agar lebih tenang dalam memanjatkan do’a.

⦁ Memelihara Wudhu

Umumnya, berwudhu dilakukan ketika akan shalat dan menjelang mandi besar (junub) agar bisa bagian-bagian tubuh tertentu bisa bersih dari najis. Namun, ada satu keutamaan sunnah lain yang juga dilakukan oleh Rasulullah SAW perihal ini.

Akan lebih baik bagi umat muslim untuk menjaga wudhu mereka selepas shalat hingga bertemu di waktu ibadah berikutnya. Setelah itu, mereka bisa mensucikan diri lagi atau tidak apabila dirasa masih suci. Terdengar mudah memang, namun sejatinya hal ini seperti tantangan berat.

Mengingat menjaga wudhu selepas shalat termasuk sulit karena penyebab batalnya bermacam-macam. tidak hanya berasal dari sekitar, namun juga diri sendiri. Kentut, kencing, buang air besar, misalnya. Maka dari itu, pahalanya besar bila bisa menjaganya.

⦁ Berwudhu Sebelum Tidur

Masih seputar wudhu, kali ini Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk bersuci dulu sebelum tidur. Mungkin terasa sedikit berat dilakukan, karena kebanyakan orang berpikir kenapa hal tersebut dilakukan, padahal hanya tinggal naik ke ranjang dan memejamkan mata.

Rasulullah SAW juga memiliki alasan tersendiri yang beliau sampaikan pada umatnya, hingga diriwayatkan kembali oleh Al-Barra’ bin Azib ra tentang keutamaan sunnah ini. Setelahnya, juga dianjurkan untuk miring ke kanan ketika akan tidur.

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ؛ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Apabila engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhu ketika hendak shalat. Kemudian berbaringlah miring ke kanan, dan bacalah”
“Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena rasa takut dan penuh haram kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari hukuman-Mu kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada nabi-Mu yang telah Engkau utus. Jika kamu mati di malam itu, kamu mati dalam keadaan fitrah. Jadikanlah doa itu, sebagai kalimat terakhir yang engkau ucapkan sebelum tidur.” (HR. Bukhari 247 dan Muslim 2710)”

Nyatanya, berwudhu sebelum tidur juga memiliki efek tersendiri bagi badan. Tubuh akan terasa lebih nyaman, serta segala lelah akibat aktifitas seharian seolah menghilang. Anda jadi bisa beristirahat dengan nyenyak tanpa terganggu pikiran-pikiran yang memberatkan.

⦁ Menyikat Gigi dengan Siwak Sehabis Wudhu

Mungkin beberapa orang merasa sedikit aneh memandang umat muslim menyikat gigi mereka menggunakan batang kayu kecil sehabis wudhu. Bentuknya pun juga tidak seperti sikat yang dijual di pasaran. Bahkan kebersihannya juga dipertanyakan.

Namun, Rasulullah SAW menganjurkan hal tersebut kepada umatnya untuk dilakukan sehabis mereka wudhu. Namanya kayu Siwak. Bentuknya sendiri biasanya kecil, serta kulit luarnya dihilangkan. Allah SWT memberikan ridha besar bagi muslim yang melakukannya.

Tidak hanya sehabis wudhu saja, Rasulullah SAW menganjurkan umat muslim untuk menggosok gigi mereka ketika hendak membaca Al-Qur’an, saat berpuasa, bangun tidur, atau akan masuk rumah. Khasiatnya sendiri bisa meghilangkan bau mulut, mengurangi kuman di gusi dan lainnya.

⦁ Berbuka Puasa dengan Kurma

Beralih ke soal berbuka puasa. Kebanyakan orang biasanya langsung menyambar minuman dingin ataupun snack yang sudah dihidangkan keluarga maupun panitia masjid bila sudah tidak tahan dengan rasa lapar. Tapi, Rasulullah SAW menganjurkan hal lain.

Rasulullah SAW telah terbiasa mengkonsumsi tiga buah (atau berjumlah ganjil) kurma basah (ruthab) ketika berbuka. Kalaupun tidak ada bisa memakan versi keringnya (tamr). Dilanjutkan dengan meminum air putih biasa, jangan terlalu dingin atau hangat.

Kurma sendiri telah dipandangan sebagai buah penuh khasiat. Bahkan, manisnya buah tersebut terkadang dijadikan pengganti gula sehingga bisa menggantikan energi yang terkuras ketika berpuasa. Otomatis, perut tidak sakit karena proses adaptasi setelah seharian tanpa makanan.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air. HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Sunnah Berupa Larangan Rasulullah SAW dalam Kehidupan Sehari-hari

Selain beberapa perintah seperti di atas, Sunnah Rasulullah SAW juga menyampaikan beragam larangan yang sekiranya harus dihindari bagi umat muslim. Karena jelas, meskipun bukan hal wajib namun akan mendatangkan keburukan (mudharat) bila dilakukan.

Larangan-larangan tersebut dikatakan Rasulullah SAW atas kejadian-kejadian sederhana dalam hidup beliau semasa itu. Serta telah menjadi panutan beragam kalangan hingga sekarang, utamanya perihal pergaulan. Karena hal tersebut telah menjadi bagian kehidupan manusia setiap hari.

⦁ Larangan Menggunjing

Akhir-akhir ini, banyak sekali cuitan di media sosial mengenai gunjingan. Menggunjing atau biasa disebut “Ghibah” merupakan kegiatan membicarakan orang lain baik dalam hal benar maupun salah dibelakang mereka.

Rasulullah SAW pun tidak membenarkan hal ini, mengingat akan mendatangkan keburukan luar biasa ketika terus dilakukan. Kebiasaan masyarakat sekarang yang suka membicarakan orang lain entah bagian benar atau salah mereka semakin memburuk.

Bahkan, Allah SWT juga tidak menyukai makhluknya yang tega membicarakan orang lain di belakang mereka. Hukumnya sendiri telah masuk dalam golongan dosa besar. Ibaratnya, manusia tersebut tega memakan daging saudaranya sendiri kalau ghibah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخْيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “’Tahukah kalian apa itu ghibah?’ Lalu sahabat berkata: ‘Allah dan rasulNya yang lebih tahu’. Rasulullah bersabda: ‘Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang dia benci’. Beliau ditanya: ‘Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan benar tentang saudaraku?’ Rasulullah bersabda: ‘jika engkau menyebutkan tentang kebenaran saudaramu maka sungguh engkau telah ghibah tentang saudaramu dan jika yang engkau katakan yang sebaliknya maka engkau telah menyebutkan kedustaan tentang saudaramu.’” (HR. Muslim no. 2589)

⦁ Larangan Saling Membenci

Mungkin hal ini termasuk umum karena benci rasanya manusiawi. Apalagi ketika ada seseorang telah melakukan kesalahan berulang pada orang lain. Secara langsung, mereka bisa menanamkan perasaan itu. Sama seperti ghibah, Rasulullah SAW juga tidak menyukai hal ini.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa benci masih memiliki sisi baik. Yaitu, ketika semuanya didasari karena Allah SWT. Misalnya, ketika melihat seseorang melakukan hal keji. Maka Anda boleh membencinya sebab itu merupakan perbuatan tercela.

من أوثق عرى الإيمان الحب في الله والبغض في الله

“Di antara tali iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

⦁ Larangan Memelihara Rasa Iri dan Dengki

Adakalanya orang berada di atas Anda dengan segala gelimang harta, kesuksesan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Wajar, jika perasaan iri muncul begitu saja. Tapi sudah tidak normal lagi jikalau rasa itu dipelihara hingga menjadi dengki.

Dengki sendiri digolongkan menjadi penyakit hati. Karena Ia bisa mempengaruhi manusia berbuat buruk terhadap orang yang dituju tersebut, misalnya saja dengan membuat celaka, memanipulasi, menipu dan sebagainya. Sehingga, sudah seharusnya untuk dihilangkan.

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya- Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا تَحاسدُوا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, adapun rasa iri yang masih disenangi Rasulullah SAW, yaitu rasa ingin memiliki harta seperti orang lain dan mampu menyalurkannya pada kebaikan, ataupun ilmu tinggi untuk dibagikan kepada mereka yang ingin berilmu.

⦁ Larangan Tidak Saling Bertegur Sapa

Akhir-akhir ini, nilai-nlai individual dalam masyarakat kian meningkat. Bahkan sudah umum rasanya kalau ada orang tidak menegur sesamanya karena dirasa belum terlalu mengenal mereka. Rasulullah SAW benar-benar tidak menyukai hal itu.

Rasulullah SAW sangat menghimbau kepada umatnya bahwa saling bertegur sapa itu penting. Terlepas dari baik atau buruknya sifat orang tersebut. Bila mau menyapa saja, Anda sudah mendapatkan pahala karena turut andil dalam emmpererat tali silaturahmi.

Banyak sekali alasan kenapa orang enggan bertegur sapa dengan sesamanya selain karena faktor individualisme tersebut. Biasanya, suka didasari rasa iri, dengki, marah, egois, benci, dan masih banyak lagi.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda,

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

“Setan (Iblis) telah putus asa untuk disembah oleh orang yang rajin shalat di Jazirah Arab. Namun dia selalu berusaha untuk memicu permusuhan dan kebencian.” (HR. Muslim 2812 dan Ibn Hibban 5941).

⦁ Larangan Membenci Seseorang Lebih Dari 3 Hari

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa membenci seseorang itu haram hukumnya. Sebisa mungkin umat muslim menjauhi hal tersebut dan mempertebal kesabaran mereka. Apalagi kalau sampai membenci sesama atau saudara lebih dari tiga hari.

Allah SWT sendiri marah bila ada orang yang membenci saudaranya sendiri lebih dari 3 hari karena akan menjadi dendam nantinya. Semua amalan yang Ia lakukan akan tertahan, bahkan ada pula ancaman pemberian tempat di neraka bila tidak mau memaafkan hingga setahun penuh.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.” (HR. Bukhari 6237 dan Muslim 2560).”

Beberapa sunnah Rasulullah SAW di atas hendaknya selalu dikerjakan bebarengan dengan perintah dari Allah SWT dalam hidup masing-masing. Agar senantiasa mendapatkan barokah dan pahala untuk bekal di akhirat nanti.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *