Biografi Ali bin Abi Thalib: Sahabat Nabi yang Terjamin Surganya

Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah ke empat setelah Utsman bin Affan. Berdasarkan silsilah, Ali masih tergolong sebagai sepupu Nabi Muhammad Saw. Sebagai seorang muslim, meneladani dan mengetahui sejarah para sahabat Nabi, merupakan sebuah kehamilan. Berikut biografi singkat dari Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat Nabi yang dijamin mendapatkan surga.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib

Ali dilahirkan pada tanggal 13 Rajab (diperkirakan 10 tahun sebelum dimulainya masa kenabian Muhammad). Beliau dilahirkan di kota Mekkah daerah Hejaz, sebuah wilayah di Jazirah Arab. Nasab Ali dimulai dari Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah. Dalam perjalanan hidupnya, Ali tidak hanya sepupu Nabi saja, melainkan juga akan menjadi menantu satu-satunya.

Ibunda Ali bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Qushay bin Kilab, sedangkan ayahnya bernama Abu Thalib. Abu Thalib sendiri merupakan paman kesayangan Nabi yang meninggal masih dalam keadaan memeluk ajaran jahiliahnya. Tercatat, Ali memiliki tiga orang saudara laki-laki, yakni Thalib, Aqil, dan Ja’far. Selain tiga orang saudara lelaki, ia juga memiliki dua orang saudara perempuan. Dua orang saudara perempuan itu bernama Ummu Hani’ dan Jumanah.

Masa Remaja Ali bin Abi Thalib

Pada saat Nabi Muhammad SAW mulai menerima wahyu pertama. Ad banyak riwayat yang menyatakan bahwa Ali merupakan lelaki pertama yang mempercayai wahyu tersebut. Disebutkan pula pada riwayat tersebut, bahwa Ali adalah orang kedua yang mempercayai Nabi setelah Khadijah. Dalam catatan dikatakan bahwa pada saat ini terjadi usia Ali adalah sekitar sepuluh tahun.

Nabi Muhammad SAW ketika itu tidak memiliki anak laki-laki, maka pamannya—Abu Thalib—menyarankan untuk merawat Ali. Usia Ali ketika mulai dirawat oleh Nabi adalah enam tahun. Nabi mengajari Ali secara langsung tanpa perantara. Meski masih tergolong sangat belia, Ali sudah mengenal Islam dengan sangat baik.

Masa remaja Ali dihabiskan untuk menimba ilmu kepada Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Bahkan Ali pun tercatat beberapa kali mengikuti peperangan bersama Nabi. Ali terlibat dalam hampir semua peperangan, kecuali perang Tabuk. Absennya Ali pada perang Tabuk ini lantaran mendapatkan perintah dari Nabi untuk menjaga dan melindungi kota Madinah.

Berikut beberapa peperangan yang beliau ikuti:

Perang Badar

Perang satu ini diikuti oleh Ali bin Abi Thalib setelah melangsungkan pernikahan dengan putri nabi satu-satunya, Fatimah. Perang Badar juga merupakan perang pertama kali dalam sejarah perkembangan Islam. Di perang ini, Ali dinisbatkan sebagai seorang pahlawan, termasuk Hamzah yang juga adalah paman Nabi. Usia Ali kala mengikuti perang Badar adalah dua puluh lima tahun.

Perang Khaibar

Perang Khaibar terjadi disebabkan oleh pengkhianatan yang dilakukan oleh Yahudi pada perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian Hudaibiyah berisi nota damai antara kaum muslimin dan yahudi. Dinamakan perang Khaibar, karena pada saat pecahnya perang kaum Yahudi berlindung di Benteng Khaibar yang kuat.

Lantaran begitu kokohnya benteng tersebut, hingga sangat sulit untuk dimasuki oleh pasukan muslim. Lalu Nabi bersabda:

“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Dan ternyata, Ali-lah yang kemudian mendapatkan kehormatan tersebut dan ia berhasil menghancurkan benteng yang terkenal kokoh itu.

Perang Khandak

Perang ini juga menjadi bukti kepiawaian Ali sekaligus saksi nyata keberaniannya. Perang ini terjadi untuk mengalahkan Amar bin Abdi Wud.

Pernikahan Ali dan Fatimah

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa Ali menikahi putri Nabi bernama Fatimah.  Dalam pernikahannya tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak. Yakni bernama Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kultsum.

Sebelum menikah dengan Ali, Nabi pernah menolak lamaran Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab. Penolakan ini dilatarbelakangi oleh kabar yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi.

Kabar itu menyebutkan bahwa yang akan menjadi suami Fatimah adalah Ali bin Abi Thalib. Beberapa ulama menyatakan bahwa pernikahan itu terjadi saat Ali berusia 18 tahun dan Fatimah berusia 14 atau 15 tahun.

Masa Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib

Masa kekhalifahan Ali tergolong tidak stabil lantaran ada banyak pemberontakan yang terjadi dilakukan oleh internal muslim sendiri. Ditambah pula pada masa Khalifah sebelumnya wafat karena dibunuh. Akibat dari terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, umat Islam terpecah ke dalam empat golongan, yakni:

  • Pengikut Utsman bin Affan yang menuntut balas akan kematian beliau. Sekaligus hendak mencalonkan Muawiyah sebagai khalifah.
  • Pengikut yang menghendaki Ali menjadi khalifah.
  • Kaum moderat yang tidak mencalonkan siapa pun dan hanya menyerahkan sepenuhnya terhadap kehendak Allah.
  • Golongan yang berpegang pada prinsip jemaah. Golongan ini diikuti oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ayyub Al-Anshari dan Usamah bin Zaida. Dikutip pula oleh Muhammad bin Maslamah dan 10.000 orang sahabat. Serta ada pula tabi’in yang menganggap baik Utsman atau Ali adalah pemimpin umat.

Sebagai seorang  Khalifah ke empat, pemerintahan Ali hanya bertahan selama kurang lebih lima tahun. Di masa pemerintahannya tersebut, Ali ditinggalkan permasalahan pelik yang terjadi pada masa khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, terjadi perang saudara, sebut saja Pertempuran Basra.

Di peperangan ini 20.000 pasukan yang dipimpin Ali bin Abi Thalib harus melawan 30.000 pasukan. Pasukan ini dipimpin oleh  Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubbaidillah. Bahkan istri Nabi yang juga merupakan putri dari Abu Bakar—Siti Aisyah—juga turut serta memimpin pasukan tersebut.

Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan tidak dapat diselesaikan dengan baik lantaran sudah terlalu banyak fitnah yang merajalela. Bahkan, kejadian ini pun telah diprediksikan sebelumnya oleh Nabi pada saat beliau masih hidup. Peristiwa pembunuhan itu juga diperparah oleh banyaknya hasutan yang dilakukan oleh para pembangkang. Kemudian peristiwa itu pun menjadi cikal bakal pertempuran Shiffin.

Wafatnya Ali bin Abi Thalib

Ali meninggal pada usia 63 tahun diakibatkan oleh pembunuhan keji yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Muljam. Abdurrahman bin Muljam termasuk ke dalam golongan khawarij atau pembangkang. Ali terbunuh pada saat tengah menjadi imam shalat subuh di masjid Kufah.

Kejadian ini terjadi bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tepatnya tanggal 19 Ramadhan, dan mengembuskan napas terakhir pada 21 Ramadhan tahun 40 Hijriah. Proses penguburan Ali dilakukan secara rahasia, hingga kini tidak ada yang tahu secara pasti letak kuburnya.

Ali memiliki istri sebanyak delapan orang, setelah istri pertamanya Fatimah meninggal dunia.

Menurut riwayat, Ali bin Abi Thalib memiliki 36 orang anak. Dengan 18 anak laki-laki dan 18 orang anak perempuan. Semua keturunannya menyebar  dan dikenal dengan Alawiyin.

Wallahu a’lam.

  • Add Your Comment