Keutamaan Do’a Menjawab Adzan

Sebagai umat muslim, dianjurkan mengucap do’a menjawab adzan setelah selesai dikumandangkan. Bahkan, pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT tidaklah sedikit. Kemudian, jangan lupa untuk segera melaksanakan shalat, dan lebih baik jika secara berjamaah.

Apa saja Keutamaan Menjawab Adzan?

Saat menjawab adzan, ternyata pahala yang didapat tidaklah ringan namun sebaliknya. Meskipun umat muslim hanya mengatakan persis seperti kata muadzin, dalam hal tersebut agama Islam tetap menghargai sebagai amal besar. Berikut beberapa keutamaannya:

⦁ Menjadi Saksi Muadzin sebagai Kebaikan Umat

Hal ini telah dijelaskan dalam salah satu hadits dari Abu Said Al – Khudri Radhiyallahu ‘anhu yaitu HR. Bukhari 609. Isinya menunjukkan kepada keutamaan orang yang sedang mengumandangkan adzan beserta para pendengarnya (akan Allah jadikan saksi kebaikannya).

لاَ يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلاَ إِنْسٌ وَلاَ شَىْءٌ إِلاَّ شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah dari suara adzan begitu keras dikumandangkan didengar oleh manusia, jin, atau siapapun yang mendengarkannya melainkan itu semua nanti akan menjadi saksi di hari kiamat kelak.”

⦁ Menjawab Adzan Karena Keyakinan Hati

Agama Islam mengatakan bahwa, jika umatnya menjawab adzan karena memang dari dorongan hatinya sendiri, maka hal ini bisa mengantarkan mereka ke surganya Allah SWT. Sesuatu penting tersebut telah ada dalam hadits:

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “

“Ketika muadzin mengumandangkan lafadz Allahu Akbar.. Allahu Akbar, lalu menjawab lafadz yang sama. Kemudian mengumandangkan Asyhadu An la Ilaaha Illallah, dan menjawab kata itu juga, begitu seterusnya hingga akhir. Barang siapa mengucapkan itu maka akan masuk surga.” (HR. Muslim 385, Abu Daud 527).

⦁ Allah Akan Memasukkannya ke Dalam Syurga

Barang siapa yang menjawab adzan maka akan dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam syurga, hal ini sudah ada dalam hadits, Nabi SAW telah bersabda seperti di bawah ini:

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمْ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، ثُمَّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ “

Ketika muadzin mengumandangkan, Allahu akbar.. Allahu akbar

Lalu kalian menjawab: Allahu akbar.. Allahu akbar

Kemudian muadzin mengumandangkan, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah..

Lalu kalian menjawab, Asyhadu anlaa ilaaha illallaah..

dst… hingga akhir adzan

“Siapa yang mengucapkan itu dari dalam hatinya maka akan masuk surga. (HR. Muslim 385, Abu Daud 527 dan yang lainnya).”

⦁ Saat Mendengar Adzan Setan Akan Menjauh

Ketika adzan dikumandangkan semua setan akan berlari tunggang langgang. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam bersabda:

إِذَا نُودِىَ بِالأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعَ الأَذَانَ فَإِذَا قُضِىَ الأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِىَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا. لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِى كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Apabila adzan telah dikumandangkan, maka setan akan berpaling seraya kentut hingga tidak mendengarnya. Bila telah selesai berkumandang, ia kembali. Ketika iqomah, dia berpaling lagi. Sampai akhirpun tetap seperti itu.” Beliau berkata “ Ingatlah, jika lupa berapa rakaat dia shalat maka sujudlah dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari No. 608, Muslim No. 389).

Bacaan Ketika Menjawab Adzan

Terdapat dua bacaan saat hendak menjawab adzan, yaitu ketika masih dikumandangkan atau selesainya. Meskipun hukumnya termasuk sunnah, namun tidak ada salahnya bila sebagai umat muslim ikut melafalkannya, apalagi amal yang didapat itu besar. Seperti:

⦁ Saat Dikumandangkan

Ketika adzan dikumandangkan, sunnah bagi umat muslim ikut menjawabnya. Seperti saat muadzin melafalkan “Allahu Akbar”, maka dijawab juga lafadz yang sama. Namun ada hal penting setelahnya. Memang bisa dibilang jawabannya semua sama, tapi ada sedikit perbedaan kata.
Saat muadzin melafalkan “Hayya ‘alashallah” dan juga “Hayya ‘alalfallah” maka semua umat muslim di sunnahkan untuk menjawab “La haula walaa khuwata illa billah”. Kemudian adzan shubuh, saat berkumandang “As shalaatu khairum minan naum”, jawabannya “Alaa dzaalika minasy syaahidiina.”

⦁ Selesai Dikumandangkan

Selain dianjurkan untuk menjawab adzan, sekarang bacaan setelah selesai dikumandangkan juga perlu dibacakan pula. Meski sunnah, namun sebagai umat muslim yang baik, seharusnya ikut membacanya juga. Yaitu:

للهُمَّ رَبَّ هذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَالشَّرَفَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًامَحْمُوْدَانِ الَّذِىْ وَعَدْتَهُ اِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

“Ya allah, pemilik dari panggilan sempurna (adzan) dan shalat (wajib) yang didirikan ini. Berilah Al – Wasilah, Al – Fadhilah kepada Nabi Muhammad SAW. Dan bangkitkan beliau hingga dapat menempati kedudukan terpuji seperti yang telah engkau janjikan.”

Pendapat Ulama Tentang Hukum Menjawab Adzan

Pendapat setiap ulama itu berbeda – beda, ada yang berpendapat bahwa hukum menjawab adzan itu wajib ada pula sunnah. Namun dari semua itu, Islam mengandalkan suatu perkataan dari setiap para Jumhur ulama.

Siapa beliau? Jumhur merupakan ulama yang pendapatnya dianggap paling kuat mengenai hukum menjawab Islam, begitupun dengan pendapat adzan. Jadi, jika dijawabnya akan mendapat keutamaan serta pahala namun bila tidak tak apa – apa. Hal tersebut terdapat pada hadits berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ، وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا، أَمْسَكَ، وَإِلَّا أَغَارَ، فَسَمِعَ رَجُلًا، يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَى الْفِطْرَةِ

“Rasullah hendak menyerang satu daerah saat terbitnya fajar, namun beliau menunggu adzan, jika telah terdengar ia akan menahan dirinya dan bila tidak, maka ia menyerang. Pada akhirnya terdengarlah suara laki – laki mengatakan (mengumandangkan adzan) “Allahu Akbar” (HR. Muslim No. 382).

Makna dari Do’a Setelah Adzan

Saat selesai dikumandangkan, inilah merupakan waktu mustajab untuk umat muslim berdoa. Maka dari itu, ketika mendengarnya dianjurkan diam dan jawab serta panjatkan doa setelah adzan. Di samping itu, ada beberapa makna dari bacaan ini, simak penjelasan berikut:

⦁ Dari Bacaan “Allahumma Robba Haadzihid Da’watit Taammah”

Ada pula makna dari bacaan “Allahumma Robba Haadzihid Da’watit Taammah”, artinya adalah sebagai umat muslim memohon kepada Allah SWT, dengan adanya kebenaran dari seruan adzan yang maha sempurna ini.

Seruan paling sempurna dimaksudkan sebagai tanpa ada kekurangan apapun di dalamnya. Tidak ada yang namanya pergantian atau perubahan, tetap seperti itu hingga hari kebangkitan kelak. Ibnu At – Tin berkata “Seruan ini disifati sempurna karena ada kata la ilaaha illallah.”

⦁ Dari Bacaan “Washolaatil Qoo – Imah” Dan “Aati Muhammadanil Washiilata”

Terdapat juga makna dalam bacaan “Washolaatil Qoo – Imah” memiliki arti “Shalat yang kekal, agama apapun dan syariat manapun tidak akan bisa mengubahnya.” Dengan perkataan lain, mengatakan bahwa solat selalu didirikan serta dikerjakan umat muslim hingga hari kiamat tiba.

Bacaan “Aati Muhammadanil Washiilata” memiliki makna “Sesuatu hal digunakan untuk mendekatkan diri pada sesuatu lebih tinggi dan mulia.” Maksudnya adalah perantara yang membuat Nabi Muhammad berada disisi Allah SWT.

⦁ Dari Bacaan “Al – Fadhilah” Dan “Wab’atshu Maqoomam Mahmuudanil Ladzii Wa’adtah”

Ada pula makna dari bacaan “Al – Fadhilah” artinya kedudukan atas semua makhluk yang sesuai dengan derajat Rasulullah.” Dan juga ada pada “Wab’atshu Maqoomam Mahmuudanil Ladzii Wa’adtah.”

Bacaan tersebut memiliki arti dengan dibangkitkannya Rasulullah sehingga dapat menempati kedudukan terpuji seperti yang telah engkau janjikan. Maksudnya, sebagai umat muslim meminta kepada Allah SWT supaya dapat memposisikan beliau sebagai Maqm Al – Mahmud.

Hukum Menjawab Adzan Menurut Islam

Imam An Nawawi berkata, bahwa adzan dan juga iqamah disyariatkan telah berdasarkan nash dan Ijma’. Semua menyepakati bahwa dengan kedua lantunan tersebut dikumandangkan itu artinya masuk waktu shalat. Untuk hukum menjawabnya ada perbedaan antar ulama. Yaitu:

⦁ Wajib

Hal ini dikatakan oleh pendapat Ibnu Wahab, Mazhab Hanafi serta sebagian ulama mazhab Maliki. Mereka mengatakan bahwa hukum menjawab adzan adalah wajib. Sebagaimana Hadits dari Abu Said Al – Khudhri berkata. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Jika mendengar adzan maka ucapkan seperti apa yang dilafalkan muadzin.” (HR. Al – Bukhari No 611 dan Muslim No. 383).

Hukum wajib ini maksudnya, untuk tidak sibuk dengan kegiatan masing-masing saat adzan dikumandangkan. Di sisi lain, juga harus memprioritaskan sholat terlebih dengan datang langsung ke masjid terdekat.

⦁ Sunnah

Hukum sunnah ini dikatakan oleh Mazhab Syafi’i, Hanbali dengan pendapat yang masyhur. Hal tersebut ada dalam hadits, yaitu Anas Bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu yang akan dijelaskan pada ayat berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ، وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ، فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا، أَمْسَكَ، وَإِلَّا أَغَارَ، فَسَمِعَ رَجُلًا، يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَى الْفِطْرَةِ

“Rasulullah SAW hendak menyerang satu daerah saat terbitnya fajar, namun beliau menunggu adzan, jika telah terdengar ia akan menahan dirinya dan bila tidak, maka ia menyerang. Pada akhirnya terdengarlah suara laki – laki mengatakan (mengumandangkan adzan) “Allahu Akbar” (HR. Muslim No. 382).

Tata Cara dalam Menjawab Adzan

Ada beberapa tata cara menjawab adzan sesuai dengan apa yang telah diucapkan seorang Muadzin, pada dasarnya hal ini sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Untuk lebih jelasnya, berikut pemaparannya:

⦁ Menurut Ulama

Menurut Imam Syafi’i dan juga Hanbali, mereka tidak memperbolehkan siapapun yang sedang haid/nifas menjawab adzan. Sementara pada Qadir Hasan melalui pendekatan Ushulfiqh berkata, bahwa hal itu wajib. Maka dari sinilah timbul permasalahan.

Permasalahan itu timbul atas jawaban dari lafadz As Shalatul Khairuminnanaum, ada sebagian orang menjawabnya dengan ucapan “Shadakta Wa Bararta Wa Ana Dzalika Minas Syahidin”. Namun selebihnya, tak ada hadits yang menjelaskan khusus tentang ini.

⦁ Menurut Kepercayaan Sekarang

Pada kepercayaan sekarang mengatakan, bahwa saat mendengar adzan dengan lafadz Tastwib, hadits mengecualikan pada ucapan “Hayya ‘Ala Shalah dan juga Hayya ‘Alal Falah”. Sementara untuk lainnya bisa dijawab dengan kata yang sama.

Ada beberapa dalil yang memerintahkan dalam menjawab adzan bagi Mustami’ (orang yang mendengar), namun tidak ada perintah untuk Muadzin menjawab adzannya sendiri. Bila terjadi, ini bukan dinamakan dengan menjawab melainkan hanya mengulang lafadznya sendiri.

Itulah penjelasan mengenai beberapa do’a menjawab adzan yang bisa dijadikan untuk memperdalam ilmu pengetahuan Anda tentang agama Islam. Semoga ulasan di atas bermanfaat bagi sobat muslim semua, dan jangan lupa untuk segera melaksanakan sholat dengan tepat waktu.

Referensi

  • https://wisatanabawi.com/doa-setelah-adzan/
  • https://tebuireng.online/hukum-menjawab-adzan/
  • https://konsultasisyariah.com/31906-keutamaan-luar-biasa-menjawab-adzan.html
  • https://muslim.or.id/7371-keutamaan-adzan.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *