Khalwat yang Dilarang dan Diperbolehkan

Bagi Anda umat muslim, mengetahui bagaimana hukum khalwat adalah hal yang penting. Karena, ini menyangkut dengan sosial dan unsur keagamaan di dalamnya. Terlebih, untuk saat ini banyak pergaulan bebas, dimana banyak menimbulkan masalah dan tidak ada unsur kebaikannya sama sekali.

Pengertian Khalwat

Khalwat merupakan Bahasa Arab yang berasal dari kata (Khalaa-yakhluhu-Khalwatan), artinya adalah menyendiri, menyepi atau mengasingkan diri secara bersama dengan tidak menyertakan orang lain dengan maksud dan tujuan tertentu.

Penjabaran lebih lanjut yang dimaksudkan dengan mengasingkan diri yaitu, menyepi tanpa sepengetahuan maupun kehadiran orang lain. Biasanya istilah khalwat dipergunakan pada hubungan dua orang dalam suatu tempat.

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahram sang wanita tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 

Namun, khalwat juga berlaku bagi muslim-muslimah yang sedang memanjatkan do’a pada malam hari. Mengapa bisa disebut begitu padahal juga tidak sedang bersama orang lain? Hal tersebut karena, mereka merasakan hanya dirinya yang bersama dengan Allah SWT tanpa adanya orang lain.

Dengan tujuan bermunajat kepada Allah SWT merupakan sesuatu yang baik, namun apakah munajat dimaksudkan hanya untuk hal-hal mulia tersebut. Tentunya tidak, jika mengacu pada paragraf di atasnya, akan memiliki kesan seperti perzinaan.

Apa saja Khalwat yang Berbahaya? 

Ternyata khalwat juga bisa diartikan kurang baik, apabila terjadi pada seorang laki-laki dan perempuan yang bersama dalam suatu tempat tanpa hadirnya orang lain. Karena dikhawatirkan dapat menimbulkan syahwat. Seperti dijelaskan pada salah satu QS Al Isra’ 17:32 berbunyi:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Sesuai firman tersebut tentu hukumnya sudah jelas untuk perbuatan zina dan yang mendekatinya tidak diperbolehkan. Hal tersebut dengan maksud dari khalwat dua orang dalam suatu tempat secara sendiri, apalagi apabila bukan mahromnya.

Terjadinya keadaan menyepi dua pasangan tanpa adanya kehadiran orang lain, akan menghadirkan syetan di antaranya dan membisikkan untuk melakukan perbuatan maksiat. Dengan menjadikan syahwat, serta menghilangkan rasa malu di antara mereka, untuk itu sebaiknya dihindari.

Khalwat di antara dua pribadi tidak diperbolehkan, begitupun dengan banyak orang. Hal tersebut dinamakan Ikhtilat maksudnya yaitu berbaur atau bercampurnya bersama laki-laki dan wanita dalam suatu aktifitas, tanpa sebuah pembatas. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Al Ahzab: 53.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ النَّبِيِّ اِلَّآ اَنْ يُّؤْذَنَ لَكُمْ اِلٰى طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِيْنَ اِنٰىهُ وَلٰكِنْ اِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَاِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوْا وَلَا مُسْتَأْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيٖ مِنْكُمْ ۖوَاللّٰهُ لَا يَسْتَحْيٖ مِنَ الْحَقِّۗ وَاِذَا سَاَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْـَٔلُوْهُنَّ مِنْ وَّرَاۤءِ حِجَابٍۗ ذٰلِكُمْ اَطْهَرُ لِقُلُوْبِكُمْ وَقُلُوْبِهِنَّۗ وَمَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُؤْذُوْا رَسُوْلَ اللّٰهِ وَلَآ اَنْ تَنْكِحُوْٓا اَزْوَاجَهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖٓ اَبَدًاۗ اِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

Beberapa Khalwat yang Diperbolehkan

Membahas khalwat memang penting, sebab berhubungan erat dengan aktivitas sehari-hari. Manusia juga merupakan mahkluk sosial butuh untuk berhubungan dengan lainnya. Jika harus digolongkan tentu akan mengganggu ukhuwah di antara sesama, karenannya ada yang diperbolehkan.

Meskipun secara hukum, dimana dua orang menyepi ditempat tertentu secara berdua saja dikatakan dilarang. Namun, sebenarnya makna dari khalwat sendiri sangat luas dan bukanlah sesuatu yang negatif asalkan sesuai dengan ketentuan yang ada.

Terdapat khalwatnya orang yang diperbolehkan, selain dalam berhubungan kepada Allah SWT yaitu dengan beberapa syarat serta kondisi. Berikut ini akan dibahas beberapa di antaranya beserta alasan mengapa dapat dilakukan:

1. Khalwat dengan Kondisi

Khalwat dengan sesama merupakan hal yang pasti biasa dilakukan setiap orang. Oleh karena itu terdapat beberapa pengecualian diperbolehkannya hal tersebut. Dengan syarat berupa kondisi dimana tempatnya masih terlihat oleh khalayak.

Bedasarkan petuah dari Ibnu Hajar, bahwa diperbolehkan untuk seorang laki-laki dan perempuan berada dalam tempat yang tidak tertutup serta masih bisa terlihat oleh orang lain. Meskipun tidak dapat didengarkan percakapanya.

Hal tersebut karena mungkin cara berbicaranya perlahan, karena mungkin dikhawatirkan perkara yang dibicarakan merupakan suatu hal dengan sifat pribadi. Sehingga apa bila didengar orang lain akan membuat aib atau rasa malu bagi mereka.

2. Khalwat dengan Menjaga Pandangan

Khalwat kedua diperbolehkan dengan tetap menjaga pandangan, maksudnya terhadap hal yang benar, serta tidak mengundang syahwat dan pikiran yang tidak-tidak pada lawan jenis. Alasan dilarangnya adalah dengan maksud agar menghindari zina.

Penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut yaitu, apabila sedang dalam sebuah komunikasi, berjabat tangan, atau berkativitas dengan lawan jenis dan dalam berpandangan terdapat fikiran dengan syahwat maka tidak diperkenankan, meskipun lawan jenis merupakan mahromnya.

Jika dalam bertatap muka tetap hadir syahwat difikirannya maka dilarang. Pandangan yang baik yaitu apabila disebabkan oleh keindahan rupa orang tersebut, sehingga mengingatkan pada penciptanya yaitu Alah SWT diperbolehkan, sesuai dengan QS Thaha Ayat 131.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.”

3. Khalwatnya Pria dengan Banyak Wanita Ajnabiyah

Khalwat berikutnya yang diperbolehkan adalah apabila seorang pria bersosialisasi dengan wanita banyak dan bukan mahrom atau disebut ajnabiah. Tidak terdapat perbedaan terhadap diharamkannya hal tersebut saat sedang sholat maupun di luarnya.

Hal tersebut menurut Imam An-Nawawi, maksudnya apabila seorang laki-laki sedang mengimami satu wanita yang merupakan istrinya. Diperbolehkan berkhalwat dengannya baik di dalam maupun diluar sholat, namun jika makmumnya ajnabiah dan mahromnya dalam jamaah maka haram.

Mengapa demikian, karena tidak mungkin seorang laki-laki berbuat buruk kepada salah satu di antara para wanita tersebut dihadapan mereka. Kecuali memang terdapat mahromnya di dalam jamaah tersebut. Maka dari itu diputuskan untuk boleh berkhalwat.

وَفِي الْحَدِيْثِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهَا تَحْرُمُ الْخَلْوَة بِالْأَجْنَبِيَّةِ وَأَنَّهُ يُبَاحُ لَهُ الْخَلْوَةُ بِالْمَحْرَمِ، وَهَذَانِ الْحُكْمَانِ مُجْمَعٌ عَلَيْهِمَا

“Di dalam hadis tersebut terdapat dalil yang menunjukkan bahwa haram pria ber-khalwat dengan  wanita asing (bukan-mahram) dan boleh pria ber-khalwat dengan disertai mahram (dari pihak wanita).  Dua hukum ini telah disepakati (mujma’ ‘alayhima) (Subul as-Salam, 5/270).”

4. Khalwatnya Wanita dengan Beberapa Pria Ajnabi

Khalwatnya seorang wanita dengan banyak pria ajnabi juga diperbolehkan, asalkan syaratnya terpenuhi yaitu dipastikan para laki-laki tersebut sudah mengenal suaminya atau merupakan orang terpercaya, sehingga dapat dipastikan tidak terjadi hal-hal buruk.

Dalam suatu kasus yang ada dimana memungkinkan seorang wanita mughibah atau dalam kondisi ditinggalkan suaminya di luar rumah namun tidak sampai keluar kota, didatangi oleh beberapa laki-laki ajnabi untuk bertamu.

Dalam kasus tersebut diperbolehkannya terjadi khalwat di antara mereka, dengan alasan para lelaki ajnabi tersebut jauh kemungkinannya untuk muncul sebuah kesepakatan melakukan perbuatan di luar batas atau nista, atau merupakan orang kepercayaan.

5. Ikhtilaf dengan Syarat

Seperti telah dibahas di atas, bahwa ikhtilaf mempunyai pengertian mirip dengan khalwat hanya saja dengan peruntukan banyak orang dan tidak. Hal tersebut terjadi apabila dalam suatu kondisi kegiatan bersama laki-laki dan perempuan.

Contohnya, seperti saat dalam majelis pengajian yang jamaahnya tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Berbaurnya mereka dapat saja menimbulkan syahwat lewat pandangan ataupun percakapan yang dilakukaan.

Lantas diperbolehkannya dengan syarat terdapat sekat yang membagi ruang laki-laki dan perempuan. Sehingga, tentu syahwat atau pikiran buruk yang disebabkan khalwat tidak akan terjadi. Hal tersebut banyak ditemui pada majelis-majelis ilmu di pengajian.

6. Khalwatnya para Sufi

Terakhir merupakan khalwat yang sangat dianjurkan dilakukan, seperti halnya para sufi dalam rangka mendekatkan diri dengan Allah SWT. Hal tersebut merupakan salah satu metode dalam tasawuf keislaman.

Khalwat sendiri banyak dijalanakan oleh para pencari jalan menuju Allah SWT untuk dapat mengenal lebih jauh sehingga mantap dalam beribadah. Di Indonesia terutama daerah Jawa banyak terdapat pondok-pondok tasawuf atau dikenal suluk.

Maksud Khalwat yang dilakukan oleh para sufi adalah mengasingkan diri dari dunia luar dan orang lain. Dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti bedo’a, berdzikir serta menelaah kedalam diri sendiri terkait usahanya mengenal pencipta.

Penutup

Itulah pembahasan mengenai khalwat, pemahaman mengenai hal ini merupakan hal yang penting karena memang dalam aktivitas sehari-hari banyak dihadapkan dalam keadaan seperti diatas. Intinya, agar tidak salah dalam mengambil langkah, memahami khalwat adalah hal terpenting.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *