Rukun Iman dan Rukun Islam: Penjelasan Penting

Rukun Iman dan Rukun Islam – Suatu ketika, Rasulullah pernah ditanya apa itu Iman, Islam, dan Ihsan. Saat itu beliau menjawab dengan mantap bahwa ketiga hal tersebut adalah ad-diin atau agama Islam itu sendiri. (HR. Muslim no. 102).

Pada suatu hari, Jibril ‘alaihis salam mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berambut hitam dan berpakaian putih, tidak tampak pada beliau bekas melakukan perjalanan jauh dan tidak ada sahabat pun yang mengenal malaikat Jibril dalam bentuk manusia seperti ini. Kemudian dia mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menyandarkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kedua tangannya berada pada paha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Jibril ‘alaihis salam memanggil ‘Ya Muhammad’ -sebagaimana orang-orang Arab badui memanggil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menanyakan beberapa perkara. Di antaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan apa itu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga perkara ini sendiri adalah Ad Diin yaitu agama Islam itu sendiri. (HR. Muslim no. 102)

Sumber : https://rumaysho.com/26-mengenal-tingkatan-islam.html

Hadis di atas selanjutnya dikenal dengan hadis Jibril atau induknya hadis. Dari hadis tersebut, para ulama lantas menyimpulkan bahwa Islam memiliki tiga tingkatan utama, yakni Iman, Islam, serta ihsan.

Nah, masing-masing tingkatan tersebut juga dibagi menjadi beberapa rukun. Untuk lebih jelasnya, berikut ada pemaparan singkat mengenai ketiga tingkatan tersebut:

Tingkatan Pertama: Islam

Dalam hadis Jibril disebutkan dengan jelas bahwa Islam meliputi lima perkara, yakni:

  1. Mengakui bahwa “Tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”
  2. Mendirikan salat
  3. Membayar zakat
  4. Berpuasa di bulan Ramadan
  5. Menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi yang mampu

Hal pertama yang diwajibkan atas seorang Muslim adalah mengucapkan “laa ilaha illallah” (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah) secara lisan dan meyakinininya dalam hati, serta menerapkannya dalam perbuatan. Hal ini juga didukung oleh firman Allah dalam surat Al-Hajj ayat 62 yang artinya:

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah sesembahan yang benar dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil.”

Tidak cukup bersyahadat saja, keimanan seseorang juga mesti ditunjang oleh 4 rukun lainnya yang diamalkan dalam kegiatan sehari-hari, seperti salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, membayar zakat, serta naik haji bila mampu. Sebagai tambahan, meskipun sifatnya rukun, bukan berarti mereka yang belum menunaikan 5 hal tersebut tidak bisa dianggap Muslim. Semua hanya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Tingkatan Kedua: Iman

Secara bahasa, iman berarti pembenaran (tashdiq). Pun ketika Nabi SAW ditanyai oleh Jibril perihal iman, beliau menjawab:

“Iman adalah: 1) engkau beriman kepada Allah, 2) kepada malaikat-Nya, 3) kepada kitab-kitab-Nya, 4) kepada rasul-rasul-Nya, 5) kepada hari akhir, serta 6) kepada takdir yang baik dan buruk.”

Di sini sudah jelas Nabi menyatakan bahwa iman memiliki enam rukun, yang jika salah satu saja di antaranya tidak dipenuhi, maka seseorang belum bisa dikatakan beriman. Pun ada batasan-batasan wajib apakah keimanan seseorang bisa dibilang sempurna atau tidak, sebagaimana:

  • Batasan wajib dalam beriman kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam, Dia-lah yang menciptakan dunia beserta seluruh isinya. Hanya kepada-Nya lah seluruh umat manusia mesti menyembah dan menyerahkan diri. Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Dia.
  • Batasan wajib dalam beriman kepada malaikat adalah mengimani bahwa Allah mengutus malaikat untuk menjalani tugas tertentu, seperti menyampaikan wahyu kepada para Nabi, mengatur pembagian rezeki kepada semesta, mencatat amal baik dan buruk manusia, dan sebagainya.
  • Batasan wajib dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini bahwa Allah menurunkan kitab kepada para rasul yang dikehendaki-Nya; kitab tersebut adalah kalam-Nya (firman-Nya); dan di antara kitab-kitab tersebut adalah Al Qur’an yang merupakan pedoman hidup umat Muslim sepanjang usia.
  • Batasan wajib dalam beriman kepada para rasul adalah meyakini penuh bahwa Allah mengutus rasul kepada hamba-Nya; dan rasul terakhir adalah Muhammad SAW, dan tidak ada rasul lagi selain ia yang wajib diikuti perintahnya.
  • Batasan wajib dalam beriman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa Allah menjadikan suatu hari ketika semua manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dan dihisab pahala dan dosanya. Mereka dibangkitkan dari kubur-kubur dan tidur panjangnya, lalu bertemu Rabb mereka untuk menerima balasan dari perbuatan yang sudah dilakukannya selama hidup di dunia.
  • Batasan wajib dan beriman kepada takdir adalah meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi dan Allah telah mencatatnya di Lauhul Mahfuz; meyakini pula bahwa apa yang sudah menjadi kehendak Allah pasti terjadi.

Tingkatan Ketiga: Ihsan

Dalam hadis Jibril, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi SAW sendiri pernah menjelaskan mengenai ihsan, yaitu:

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, Allah akan melihatmu.

Pun dalam pengertian ihsan ini masih terdapat dua tingkatan yang harus dipahami: tingkatan pertama disebut musyahadah, yaitu seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu digarisbawahi, bahwa yang dimaksud melihat di sini adalah melihat sifat-sifat-Nya.

Oleh karenanya, apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang cukup terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada sifat-sifat-Nya. Kabarnya, inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan seorang Muslim.

Tingkatan kedua disebut dengan muroqobah, yaitu apabila seseorang tidak mampu melihat dan memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin Allah pasti melihatnya. Nah, tingkatan inilah yang umum bersemayam di hati banyak Muslim.

Sebagai contoh, apabila seseorang mengerjakan salat, dia otomatis akan merasa bahwa Allah memperhatikan apa yang dia kerjakan. Hal inilah yang lalu berpengaruh terhadap perilaku hidupnya sehari-hari, termasuk semakin memperbaiki salatnya.

Nah, dari ketiga tingkatan di atas, yakni iman, Islam, dan ihsan, sudah diketahui dengan jelas bahwa masing-masing dari ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Orang yang mengaku beriman sudah pasti akan menjalankan rukun-rukun Islam disertai dengan hadirnya Ihsan dalam hatinya.

Semoga penjelasan mengenai rukun Iman dan Islam di atas bermanfaat buat pembaca sekalian, ya!

  • Add Your Comment