Sholat Jamak Qashar bagi Para Musafir

Dunia memang luas dan tidak terbatas pada daerah sekitar rumah saja. Namun, kadang kala Anda pasti pernah merasakan bepergian ke suatu tempat. Akan tetapi bagi muslim, hal tersebut bukan berarti meninggalkan kewajiban, terlebih sholat 5 waktu. Namun, masih ada sholat Jamak Qashar yang harus dikerjakan sebagai solusi terbaik.

Pengertian Sholat Jamak Qashar

Bagi yang sering bepergian, apalagi muslim, pasti familiar mendengar serta melaksanakan jenis sholat satu ini. Utamanya, ketika mereka harus menempuh batas-batas daerah bahkan negara agar sampai ke tempat tujuan tanpa harus meninggalkan kewajiban, dengan Jamak Qashar.

Jamak berarti menggabungkan dua sholat yang waktunya berdekatan menjadi satu agar lebih ringkas. Karena, tidak mungkin Anda harus berhenti setiap saat untuk melaksanakannya apalagi kalau naik kendaraan umum. Contohnya saja seperti Dhuhur dengan Ashar ataupun Maghrib dan Isya’.

Sementara itu, Qashar juga berarti meringkas sholat, namun dengan memperpendek rakaatnya. Terutama yang memiliki 4 tahapan, seperti Dhuhur, Ashar serta Isya’. Sekiranya bisa diringkas menjadi 2 saja, karena Islam tidak mau menyulitkan hambanya. Firman Allah dalam surah an nisa ayat 101:

وَاِذَاضَرَبْتُمْ فِى اْلاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلَوٰةِ اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اِنَّ اْلكفِرِيْنَ كَانُوْالَكُمْ عَدُوًّامُّبِيْنًا

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu meng-qoshor sholat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.”

Hukum Melaksanakan Sholat Jamak Qashar

Semua hal yang telah diatur dalam Al-Qur’an, Sunnah dan Hadits tentu memiliki hukumnya sendiri-sendiri agar umat Islam tahu, apakah hal tersebut wajib dilaksanakan, boleh saja atau justru malah dilarang oleh agama.

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْصُرُ فِى السَّفَرِ وَيُتِمُّ وَيُفْطِرُ وَيَصُومُ.

“Bahwa Nabi Saw. pernah mengqashar dalam perjalanan dan menyempurnakannya, pernah tidak puasa dan puasa.” [HR. ad-Daruquthni]
Sama halnya dengan sholat Jamak, Qashar, dan Jamak Qashar yang terkadang masih menjadi polemik tersendiri ditengah masyarakat. Beberapa bilang bahwa hal tersebut kurang diperkenankan, namun banyak juga telah mendukung bahwa ibadah tersebut boleh saja diselenggarakan.
Hukum dari Sholat Jamak, Qashar, Jamak Qashar sendiri sebenarnya sama, yaitu mubah (diperbolehkan). Apabila syarat-syarat kedua keringanan ibadah tersebut bisa dipernuhi oleh umat muslim yang menjalankannya. Bila dilanggar salah satunya, maka kedudukannya pun tidak sah.

Syarat Menjalankan Sholat Jamak Qashar

Seperti yang sudah disinggung diatas, sholat Jamak pun ada syarat-syaratnya juga, bukan sekedar dalam perjalanan saja. Umat muslim tidak boleh sembarangan mengerjakannya apalagi kalau faktor didalamnya kurang terpenuhi. Takutnya, pahala ibadah gagal dimiliki.

جَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ سَفَرٍ وَلا خَوْفٍ، قَالَ: قُلْتُ يَا أَبَا الْعَبَّاسِ: وَلِمَ فَعَلَ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَرَادَ أَنْ لاَ يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِهِ.

“Nabi SAW pernah menjamak antara shalat Dzuhur dan Ashar di Madinah bukan karena bepergian juga bukan karena takut. Saya bertanya: Wahai Abu Abbas, mengapa bisa demikian? Dia menjawab: Dia (Nabi SAW) tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.” [HR. Ahmad]

Selain boleh menjalankan Jamak ketika berada di perjalanan, umat muslim juga bisa memperpendek ibadah tersebut dengan Qashar. Apalagi bagi mereka yang sedang di luar negeri dimana masyarakatnya mayoritas non-muslim.

Bahkan, bagi Anda yang benar-benar didesak waktu lalu harus segera melanjutkan perjalanan lagi seperti ketika transit di bandara, maka umat muslim boleh melakukan Jamak Qashar sekaligus. Syaratnya pun sama seperti kedua jenis diatas, yakni sebagai berikut.

⦁ Jarak Tempuh

Perjalanan bisa dihitung jauh karena jarak yang ditempuh, begitupun bagi syarat sholat ini. Umat muslim boleh melaksanakan Jamak di perjalanan apabila telah menempuh minimal 81Km. Kurang dari itu, masih dianggap tidak sah.

Beberapa lainnya beranggapan kalau sekiranya mereka sudah keluar dari daerah tempat tinggalnya. Minimal berada di kota lain, tidak tergantung dari sulit mudahnya perjalanan. Maka, umat muslim boleh menjalankan sholat Jamak.

Rasulullah SAW bersabda:

عن يحيى بن يزيد الهنائي؛ قال: سألت أنس بن مالك عن قصر الصلاة؟ فقال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خرج، مسيرة ثلاثة أميال أو ثلاثة فراسخ صلى ركعتين

“Dari Yahya bin Yazid al-Hana’i berkata, saya bertanya pada Anas bin Malik tentang jarak sholat Qashar?. Anas menjawab: Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau 3 farsakh beliau sholat dua rakaat”. (HR Muslim)

⦁ Bukan untuk Mencari Mudharat

Melakukan perjalanan pasti ada tujuannya. Tidak mungkin seseorang keluar kota atau negara tiba-tiba tanpa arah pasti. Sholat Jamak boleh dilakukan umat muslim yang sedang bepergian dengan maksud baik. Setiap ibadahnya akan dihitung sah.

Meskipun perjalanan itu telah ditempuh sejauh apapun, apabila niatnya hanya untuk mencari ke-mudharat-an maka setiap ibadahnya tidak akan diterima. Misalnya saja karena melakukan kejahatan, maksiat, berfoya-foya dan masih banyak lagi.

⦁ Dalam Keadaan Darurat

Terkadang, manusia tidak pernah tahu akan apa yang akan terjadi di daerahnya, hingga menyebabkan mereka semua terpaksa meninggalkan wilayah tersebut untuk menyelamatkan diri. Semua umat muslim tersebut boleh mengerjakan Sholat Jamak dan dihitung sah.

Misalnya saja, ketika daerahnya harus terpapar bencana alam yang merusak sebagian besar wilayahnya, peperangan, atau serangan virus, radioaktif seperti di Jepang maupun Chernobyl, dimana hal tersebut berbahaya bagi mereka. Hal tersebut dijelaskan dalam Surat an-Nisaa’ [4]: 101

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا.

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qasar sholatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

⦁ Digabung Menjadi Dua

Untuk persyaratan ini, hanya digunakan pada Jamak. Karena hakikatnya adalah menggabungnya menjadi satu waktu dengan jumlah rakaat tetap. Sementara sholat yang boleh digabung memiliki jarak pelaksanaan dekat seperti Dhuhur dan Ashar serta Maghrib ke Isya’.

Dengan adanya ini, umat muslim bisa melaksanakan ibadah mereka di satu waktu sholat. Sementara itu, ada dua yang diutamakan saat Jamak berlangsung, yakni dikerjakan di awal (Takdim) atau saat akhir (Ta’khir).

Misalnya, bila memilih dikerjakan saat awal (Takdim) berarti Anda melaksanakan sholat Dhuhur-Ashar sekitar pukul 12-2 siang. Sementara, kalau mau dilaksanakan di akhir (Ta’khir) berarti ibadah Maghrib dan Isya’ dilakukan ketika masuk jam 7 malam hingga 3 pagi.

⦁ Memperpendek Sholat dengan 4 Rakaat

Sementara itu, untuk Qashar juga ada aturannya sendiri. Sholat yang bisa diperpendek hanya mereka dengan jumlah 4 rakaat seperti Dhuhur, Ashar, serta Isya’. Sementara sisanya tetap dikerjakan seperti biasa.

Untuk waktunya sendiri tidak digabung seperti Jamak. Pelaksanaannya tetap pada jam-jam normal sholat tersebut. Jadi, Qashar cocok bila Anda laksanakan ketika terburu-buru saja. Seperti saat transit di bandara atau stasiun negara tertentu.

⦁ Tidak Bermukim Lebih dari 4 Hari

Pada saat melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan apapun, sudah pasti Anda akan beristirahat di suatu tempat untuk meredakan lelah dan keperluan lainnya. Pada saat itulah Sholat Jamak maupun Qashar boleh dilaksanakan.

Akan tetapi, bila Anda berhenti di tempat tersebut selama lebih dari 4 hari, maka para ulama’ tidak menghitung perjalanan tersebut sebagai safar meskipun jaraknya sudah lebih dari 81km. Sholat Jamak maupun Qasharnya tidak akan sah dilakukan.

⦁ Memilih Imam yang Sejalan

Ketika Anda sudah memiliki tujuan untuk melaksanakan sholat Jamak maupun Qashar saat beristirahat dalam perjalanan panjang dan ingin berjamaah sekalian, maka harus mencari imam dengan niat yang sama.

Tidak akan sah sholat tersebut bila antara imam dan makmum memiliki niat yang tidak sejalan. Akan lebih baik kalau dikerjakan sendiri saja, karena belum tentu tahu apakah ia melaksanakannya dengan rakaat penuh atau setengah saja.

⦁ Benar-benar Dilakukan dalam Perjalanan

Jamak dan Qashar yang telah dibahas diatas, masuk dalam golongan Sholat Safar dimana ibadah tersebut dilaksanakan ketika Anda berada di tengah perjalanan. Jadi, waktu pelaksanaannya pun harus ada saat bepergian.

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ بِالْمَدِينَةِ أَرْبَعًا وَصَلَّى الْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ.

“Bahwa Rasulullah Saw. shalat Dzuhur di Madinah empat rakaat dan shalat Ashar di Dzul–Hulaifah dua rakaat.” [HR. Muslim]

Hitungannya jadi lain ketika Anda sudah sampai di tempat tujuan, namun belum melaksanakan sholat sebelumnya, sementara adzan waktu berikutnya sudah berkumandang. Maka, tidak diperkenankan melakukan Qashar. Sebisa mungkin harus Jamak.

⦁ Boleh Mencampur Qashar dan Jamak

Masih banyak orang mendebatkan tentang hal ini hingga sekarang, karena banyaknya pendapat yang mengemukakan soal penggabungan sholat Jamak dan Qashar dalam satu waktu tersebut dinilai sah atau tidak.

Nyatanya, hal tersebut boleh saja dilakukan. Anda bisa menggabung sholat Dhuhur dan Ashar menjadi satu (Jamak) lalu memangkas rakaatnya menjadi 4 sekaligus, bukan 8 lagi (Qashar). Pelaksanaannya pun dapat di awal (Takdim) maupun akhir waktu (Ta’khir)

Meskipun begitu, pahala yang didapatkan juga tetap sama seperti sholat pada umumnya, walau dari segi rakaatnya benar-benar disingkat. Namun, tetap perhatikan juga faktor-faktor sebelumnya agar dihitung sah.

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Jamak

Meskipun dasarnya sama seperti fardhu, namun sholat Jamak memiliki tata cara sendiri untuk melakukannya. Untuk pengerjaannya, kebanyakan orang memang masih bingung. Bahkan beberapa di antaranya hingga berbeda pendapat.

Untuk pelaksanaan sholat Jamak pun, Anda harus melakukannya secara berurutan meskipun dikerjakan pada waktu awal maupun akhir. Serta saat di batas keduanya, tidak diselingi oleh istirahat sejenak maupun melakukan hal lain. Lantas, bagaimana tata caranya?

⦁ Niat

Sama seperti sholat dan kegiatan lainnya, Anda harus mengawali kegiatan ini dengan niat lebih dulu. Hal ini merupakan salah satu syarat wajibnya. Sementara itu, untuk Takdim dan Ta’khir ucapannya ada sendiri-sendiri.

Misalkan saja, Anda tengah melaksanakan Jamak Takdhim sholat Dhuhur dan Ashar. Pengerjaannya, menjadi 8 rakaat, dan salam dilakukan saat di tengah-tengah. Niatnya jadi seperti berikut.

اُصَلِّى فَرْضَ الظُهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَقْدِيْمًا مَعَ العَصْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالى

Sementara, bila Anda berniat melakukan Jamak Ta’khir ketika sholat Maghrib dan Isya’, maka digabung menjadi 7 rakaat dengan salam berada di tengah-tengah (saat tahapan ke 3). Niatnya jadi seperti berikut

اُصَلِى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَأخِيْرًا مَعَ العِشَاءِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

⦁ Takbiratul Ihram sampai Salam

Selesai mengucapkan niat tadi, Anda bisa menjalankan sholat seperti biasa ketika fardhu. Mengawalinya dengan Takbiratul Ihram hingga salam dan dilaksanakan dalam 4 rakaat seperti Dhuhur atau 3 rakaat ketika Maghrib pada waktu normal.

⦁ Langsung Berdiri

Selanjutnya, ketika Anda selesai menjalankan Sholat Dhuhur di waktu Jamak Takdim tadi, Anda harus langsung berdiri. Tidak ada jeda disana, apalagi kalau diselingi dengan dzikir, do’a, wirid, atau lainnya.

Bukannya hal tersebut tidak boleh dilakukan. Semuanya tetap diperbolehkan, namun Anda masih dalam keadaan “ditengah-tengah” sholat. Bayangkan saja ketika Fardhu lalu saat Tahiyyat Awal terhenti, karena dzikir dan berdo’a. Maka hilang esensi ibadahnya. Ibaratnya seperti itu.
Dzikir, do’a, dan wirid tetap boleh dilakukan namun selepas sholat kedua. Itupun ketika Anda masih memiliki waktu lebih saat di masjid maupun rest area untuk melakukannya. Akan sedikit menyulitkan kalau sedang transit dan naik kendaraan umum.

⦁ Niat Kedua

Selanjutnya, Anda harus berniat lagi untuk mengerjakan sholat yang kedua. Niatnya sedikit berbeda, meskipun dilaksanakan di waktu awal (Takdhim) maupun akhir (Ta’khir). Ucapannya sendiri sebagai berikut.

اُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَقْدِيْمًا مَعَ الظُهْرِ فَرْضًا للهِ تَعَالى

Niat Jamak Ta’khir Kedua

اُصَلّى فَرْضَ العِسَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ جَمْعًا تَأخِيْرًا مَعَ المَغْرِبِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

⦁ Takbiratul Ihram hingga Salam Kedua

Setelahnya, Anda bisa melaksanakan sholat Ashar maupun Isya’ seperti biasanya dari Takbiratul Ihram hingga Salam. Bila berakhir, baru bisa berdo’a, berdzikir, wiridan, bercakap-cakap dan lain sebagainya karena hitungannya sudah selesai.

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Qashar

Selain melaksanakannya secara Jamak, bagi Anda yang tengah diburu waktu juga bisa melakukan sholat Qashar. Faktanya, meskipun banyak orang sudah melakukan, namun masih saja sebagian lain merasa bingung bahkan beberapa menyebut versi mereka sendiri ketika pelaksanaannya.

Waktu sholat Qashar sendiri masih sama seperti Fardhu. Misalnya ketika Dhuhur sudah tiba, maka Anda harus melaksanakannya saat itu juga. Hanya saja, rakaatnya dipotong menjadi setengah (2 rakaat) begitupun kalau Ashar maupun Isya’. Pelaksanaannya sendiri sebagai berikut:

Sama seperti Jamak diatas, Qashar juga harus diawali oleh niat terlebih dulu agar pelaksanaannya sah. Bedanya, setelah salam mereka boleh langsung berdzikir atau berdo’a kalau punya waktu. Ucapannya sendiri seperti berikut.

اُصَلّى فَرْضَ الظُهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا للهِ تَعَالى

Setelahnya, Anda bisa melaksanakan sholat seperti biasa. Hanya saja, ketika Tahiyat Awal berlangsung bacaaannya dibaca penuh lalu langsung Salam. Itulah yang membedakan antara sholat Qashar dengan Jamak.

Tata Cara Pelaksanaan Sholat Jamak Qashar

Sementara itu ketika Anda benar-benar diburu waktu dan belum melaksanakan sholat sebelumnya, maka bisa menggabung kedua jenis ibadah tersebut menjadi satu untuk mempersingkat. Banyak ulama mengatakan hal ini boleh dilakukan.

Sholat Jamak Qashar sendiri juga tidak terlalu sulit dilakukan. Bahkan ibadah ini termasuk yang paling ringan (ruksah) karena selain menggabungkan keduanya, juga mempersingkat rakaatnya, serta dapat dilakukan di waktu awal (Takdim) dan akhir (Ta’khir).

Berikut tata cara melakukannya.

⦁ Niat

Karena kedua sholat ini digabung, jadi niatnya pun ada dua. Yakni ketika dilakukan secara Takdim (awal) maupun Ta’khir (akhir). Pelafalannya sendiri tidak jauh berbeda dengan Jamak dan Qashar di atas, yakni sebagai berikut.

اُصَلّى فَرْضَ الظُهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلَيْهِ العَصْرُ جَمْعَ تَقْدِيْمًا للهِ تَعَالَى

⦁ Takbiratul Ihram hingga Salam

Pelaksanaannya sendiri masih sama seperti sholat pada umumnya, hanya saja jadi diringkas 2 rakaat saja pada waktu awalnya. Semisal, saat Dhuhur atau Maghrib hanya dikerjakan setengahnya. Setelah itu langsung salam, tanpa Tahiyat Awal.

⦁ Langsung Berdiri

Karena Jamak dan Qashar digabung, selanjutnya Anda tidak diperkenankan untuk mengambil jeda. Seperti istirahat, ngobrol, dzikir, wirid, maupun berdoa selesai 2 rakaat pertama tersebut karena masih ditengah sholat. Jadi harus langsung berdiri lalu mengucapkan niat lanjutannya.

اُصَلّى فَرْضَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا مَجْمُوْعًا اِلِى الظُهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمًا للهِ تَعَالَى

⦁ Takbiratul Ihram hingga Salam

Selanjutnya, Anda bisa melaksanakan sholat kedua (Ashar atau Isya’) seperti biasa mulai Takbiratul Ihram hingga salam. Hanya saja, ketika Tahiyat Awal diganti dengan bacaan penuh karena masih terpengaruh Qashar.

Pelaksanaan Sholat Jamak Qashar di atas Kendaraan

Mungkin sudah biasa bagi para umat muslim untuk melaksanakan sholat ketika mereka tengah berhenti di masjid, musholla, maupun rest area sekitar jalan tol. Tapi, bila hal tersebut tidak mungkin dilakukan, mereka tetap bisa melakukannya di atas kendaraan.

Karena tengah diatas kendaraan, maka masalah kiblat bisa mengikuti kemana arah mobil, kereta, atau pesawat tersebut melaju. Namun, kalau tidak memungkinkan bisa ditunda hingga mendarat dan melakukannya di daratan. Bila Anda ingin melakukannya, tata caranya sebagai berikut.

⦁ Bila Mungkin, Dilakukan Seperti Biasa

Apabila kabin kendaraannya longgar, semisal tengah di mobil pribadi ataupun kapal laut, maka Anda bisa melaksanakannya seperti biasanya. Kalau ada banyak orang disana, bisa juga dilakukan secara berjamaah.

Anda bisa mengambil posisi berdiri, lalu melakukan ruku’, sujud, seperti biasanya. Untuk arah kiblat pun tidak dipermasalahkan. Namun bila mengetahuinya, semisal dengan kompas atau ponsel, boleh langsung menghadap kesana.

⦁ Bila Tidak Mungkin, Dilakukan Sambil Duduk

Ketika Anda berada di tengah kereta api, bus, atau pesawat, maka tidak mungkin rasanya melakukan Jamak atau Qashar sambil berdiri. Pasti akan mengganggu penumpang lainnya, terlepas mereka muslim atau bukan.

Ada baiknya, sholat tersebut dilaksanakan sembari duduk. Tatacaranya pun seperti biasa, hanya saja saat ruku dilakukan dengan membungkukkan punggung. Bila sujud, maka bungkuknya lebih dalam lagi.

⦁ Bila Tidak Ada Air, Lakukan Tayamum

Meskipun sekarang telah banyak kendaraan umum yang dilengkapi dengan kamar mandi umum, namun sedikit risih rasanya bila Anda harus pergi kesana dan berwudhu. Bahkan beberapa toilet enggan melengkapinya. Jadi, lakukan tayamum dengan mengambil debu di sekitar.

Begitulah cara Allah SWT memberikan keringanan bagi umatnya untuk melaksanakan ibadah. Islam jelas tidak memperberat usaha siapapun yang mau dan mampu mencari ridho Sang Maha Kuasa. Contohnya seperti sholat Jamak Qashar di atas, dimana pahala bisa didapat meski dalam perjalanan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *