Tata Cara Shalat Nisfu Sya’ban yang Benar dan Sesuai Tuntunan Rasulullah

Kehadiran Bulan Syaban pada tanggal 15 Kalender Hijriah ini selalu ditunggu oleh umat muslim maupun laki-laki, terlebih untuk memperkaya amalan-amalan baik seperti “shalat sunnah”. Namun tata cara Shalat Nisfu Sya’ban tidak sama seperti ibadah lainnya, karena sudah diatur di dalam Islam.

Beberapa Dalil Umum

Sebagai bulan yang letaknya berada di tengah-tengah antara Rajab dan Ramadhan, Allah mengistimewakan kesempatan ini untuk mengampuni semua dosa-dosa umat Islam yang tidak lalai, serta tidak bermusuhan dengan sesama. Selain amalan puasa sebanyak-banyaknya, diperintahkan pula untuk menjalankan shalat sunnah.

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. ) Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan.”

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ

“Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”

Seperti yang sudah dijelaskan dalam (QS. Ad-Dukkhan: 3 – 4) di atas, pada bulan syaban khususnya di malam hari, Allah menurunkan keberkahan Al-Qur’an, sehingga sekaligus mengingatkan seluruh umat agar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Sebab, pada malam itu diturunkan segala takdir yang serba baik dan bijaksana. Termasuk dalam memberi ampunan atas kesalahan-kesalahan hamba Allah yang telah meminta maaf.

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Jika datang malam pertengahan bulan Syaban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378)

Sebuah hadits yang menerangkan tentang bulan Syaban ini paling familiar serta diakui keberadaannya oleh masyarakat. Sebagian besar orang mungkin lupa, karena pada bulan ini tempatnya orang-orang yang lalai.

Namun Allah telah mengingatkan, untuk hambanya melakukan Shalat Qiyamul Lail pada tengah malam, serta berpuasa ketika siang. Sebab pada malam harinya Allah turun dari langit ke bumi untuk memberikan ampunan bagi hamba-hambanya yang ingat.

Allah juga akan memberikan rezeki bagi umatnya yang meminta, serta memberikan pertolongan keselamatan bagi manusia yang sedang menjalani ujian dari-Nya. Kesempatan ini dijamin hingga waktu terbit fajar atau matahari.

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ وَآثَارٌ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِيهَا فَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِيهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيهِ حُجَّةٌ فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا.

“Adapun (shalat) pada malam nisfu Sya‘ban, maka banyak hadits serta atsar dari sahabat yang menyebutkan keutamaannya. Dikutip dari segolongan ulama salaf bahwa mereka melakukan shalat pada malam nisfu Sya‘ban. Maka shalat yang dilakukan seseorang pada malam tersebut secara sendirian telah dicontohkan oleh para ulama salaf, amalan tersebut mempunyai dalil sehingga tidak perlu diingkari.”

Dalam kitab Majmuk Fatawa-nya, Ibnu Taimiyah menulis seperti demikian. Dimana keutamaan Shalat Nisfu Syaban yang dilakukan secara sendirian memiliki keistimewaan dan telah diperkuat dengan dalil sehingga tidak perlu diragukan kebenarannya.

وَأَمَّا الصَّلَاةُ فِيهَا جَمَاعَةً فَهَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى قَاعِدَةٍ عَامَّةٍ فِي الِاجْتِمَاعِ عَلَى الطَّاعَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فَإِنَّهُ نَوْعَانِ أَحَدُهُمَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ إمَّا وَاجِبٌ وَإِمَّا مُسْتَحَبٌّ كَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَالْجُمُعَةِ وَالْعِيدَيْنِ. وَصَلَاةِ الْكُسُوفِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَالتَّرَاوِيحِ فَهَذَا سُنَّةٌ رَاتِبَةٌ يَنْبَغِي الْمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالْمُدَاوَمَةُ. وَالثَّانِي مَا لَيْسَ بِسُنَّةِ رَاتِبَةٍ مِثْلَ الِاجْتِمَاعِ لِصَلَاةِ تَطَوُّعٍ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ أَوْ عَلَى قِرَاءَةِ قُرْآنٍ أَوْ ذِكْرِ اللَّهِ أَوْ دُعَاءٍ. فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ إذَا لَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً رَاتِبَةً.

“Adapun shalat berjamaah pada malam tersebut, maka hal ini masuk dalam keumuman dalil yang menganjurkan berkumpul untuk ketaatan dan ibadah. Rinciannya dapat dibagi dua, pertama, shalat untuk dibiasakan. Shalat jamaah seperti ini sangat dianjurkan dilakukan untuk shalat wajib ataupun sunah seperti shalat yang lima waktu, shalat Jumat, shalat hari raya, shalat gerhana, istisqa’, dan tarawih. Maka shalat-shalat ini sangat dianjurkan untuk dijaga dan dirutinkan. Kedua, tidak sunah untuk dibiasakan, seperti berkumpul untuk melakukan shalat sunah secara berjamaah seperti qiyamul lail, membaca Al-Quran, berzikir, dan berdoa secara berjamaah. Namun hal ini tidak masalah jika tidak dijadikan sebagai kebiasaan (rutinitas).”

Pendapat menurut Ibnu Taimiyah di atas, meskipun hadits yang menyatakan shalat Nisfu Sya’ban itu banyak sekali yang berstatus dhaif, namun melakukannya tidak dilarang.

Kisah Sahabat Nabi Muhammad SAW Saat Malam Nisfu Sya’ban

Ada beberapa kisah sahabat Nabi sesaat sebelum turunnya Malam Nisfu Sya’ban, kemudian semuanya memberikan pernyataan terkait hal itu.

  • Sayyidina Ali

Beliau diperingatkan sebelumnya oleh Rasulullah bahwa ketika datang Malam Nisfu Sya’ban, maka lakukan saja ibadah shalat malam, kemudian berpuasa ketika siang, sebab para malaikat akan turun ke bumi dan mengabulkan semua doa atas izin Allah hingga matahari terbit kembali.

  • Muaz bin Jabal

Ia juga mendapat sabda nabi yang mengatakan bahwa segala pemindahan urusan Laukhil Mahfudz pada saat Malam Nisfu Sya’ban hingga tiba Lailatul Qadar, segala urusan rezeki diserahkan kepada Malaikat Mikail.

Begitupun kepentingan perang, bencana, maupun gempa akan diberikan kepada Malaikat Jibril, sedangkan mengenai kematian, ajal, serta musibah apapun dikendalikan oleh malaikat maut.

  • Sayyidah Aisyah

Kisah yang dialami Aisyah istri Baginda Nabi saat Malam Nisfu Sya’ban ini mencari-cari keberadaan Rasulullah saat tengah malam beliau tidak sengaja terbangun. Sempat mengira bahwa Muhammad akan menjumpai istri-istri lainnya.

Namun, ternyata Aisyah menemukan Rasulullah sedang berada di pekuburan sambil memandang ke atas langit. Mengetahui hal itu, nabi mengatakan bahwa Allah akan mengampuni segala dosa hamba pada malam itu serta akan menurunkan segala kelimpahan rahmat-Nya.

Sesaat kemudian, Aisyah melihat Baginda Nabi sujud sangat lama hingga mengira telah wafat. Karena kekhawatiran, ujung kaki rasul dipegang dan digerakkan, setelah mengetahui bahwa masih bergerak Aisyah pulang dan menunggu di rumah.

  • Naufal Al-Bakali

Kisah sahabat berikutnya yang keluar saat malam hari dan bertepatan dengan turunnya Malam Nisfu Sya’ban, beliau memandang ke atas langit sambil mengatakan bahwa malam ini begitu mustajab. Dimana seorang hamba tidak akan berdoa selain engkau akan mengabulkan segala permintaannya.

  • Ka’ab Al-Ahbar

Beliau berkata tentang istimewanya Malam Nisfu Sya’ban dimana Allah memerintahkan pada Malaikat Jibril untuk segera menghias surga seindah mungkin, serta melepaskan umat-umat yang berada di neraka pada malam itu.

Mereka dilepaskan sesuai jumlah bintang yang ada di langit. Sejumlah hari dan malam di dunia, sebesar gunung-gunung, sejumlah jutaan pasir di bumi, serta sebanyak dedaunan pohon yang masih bernafas.

Tata Cara Shalat Nisfu Sya’ban yang Dianjurkan

Tata cara dalam melaksanakan sholat ini sama dengan umumnya, untuk lebih jelasnya perhatikan langkah di bawah ini:

Niat. Sama seperti amalan shalat lainnya yaitu dalam tata cara Shalat Nisfu Sya’ban harus menyertakan niat ketika akan memulai, namun harus dibacakan secara pelan dan dihayati dalam hati. Berikut lafadznya:

اُصَلِّىْ سُنَّةً نِصْفُ شَعْبَانَ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Saya sholat sunnat Nisfu Sya’ban dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Takbiratul Ikhram. Atau sikap mengangkat tangan sejajar dengan telinga dengan mengucap Allahu Akbar yang artinya “Allah Maha Besar”.

Membaca Surat. Seperti melakukan shalat lainnya setelah takbiratul ikhram, diwajibkan membaca surat Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan satu surat pendek saat rakaat pertama, kemudian dianjurkan menambahkan bacaan Surat Al-Kafirun seusainya pada rakaat pertama.

Gerakan Lainnya. Setelah itu, lakukan seperti gerakan shalat lainnya mulai ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sebagainya hingga berdiri kembali di rakaat kedua.

Surat. Sama seperti rakaat pertama, wajib membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan surat pendek bebas namun lebih baik Al-Ikhlas pada rakaat kedua.

Gerakan Umum. Setelah itu lakukan gerakan shalat seperti pada umumnya dan diakhiri dengan mengucap salam sambil menoleh ke bahu kanan dan kiri.

Pendapat Ulama Berkaitan Malam Nisfu Sya’ban

Atas hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa, Muaz bin Jabal dan sebagainya yang mengatakan bahwa Allah akan mengampuni orang-orang yang mendirikan shalat di Nisfu Sya’ban, ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani.

Namun, juga banyak ulama terdahulu yang mendhaifkan hadits tersebut artinya tidak dapat dipercaya. Sehingga muncul ketidaksepahaman dan perselisihan terkait keutamaan Shalat Nisfu Sya’ban.

Pendapat ini disimpulkan dari para ulama yang mengatakan bahwa, malam Nisfu Sya’ban sama saja dengan malam lainnya. Serta bila pun ada hadits yang mendukung, masih berstatus lemah. Pendapat ini dikataka oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz, Ibnu Diyah dan sebagainya.

Beberapa ulama seperti Imam Muhammad Nassiruddin Al-Albani, serta Syekh Al-Qosimi menilai bahwa banyak hadits yang bernilai shahih mengenai keutamaan shalat di Malam Nisfu Sya’ban, sebab bagi mereka keberadaan hadits tersebut dibenarkan oleh para tabi’in.

Mengenai perselisihan mengenai Malam Nisfu Sya’ban, ada baiknya tetap mempelajari tata cara Shalat Nisfu Sya’ban agar sempurna dalam beribadah, terkait diterima atau tidak serahkan semuanya sebagai urusan Allah SWT.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *